Senin, 22 Agustus 2011

PUJIAN SETELAH ADZAN

Sejak zaman hadulu, di sebagian masjid atau mushalla di Jawa ada kebiasan yang tidak dilakukan di masjid atau mushalla lain, yaitu setelah adzan shalat maktubah dibacakan pujian berupa dzikir, do’a, shalawat nabi atau sya’ir-sya’ir yang islami dengan suara keras. Beberapa menit kemudian baru iqamat. Akhir-akhir ini banyak dipertanyakan bahkan dipertentangkan apakah kebiasaan tersebut mempunyai rujukan dalil syar’i? Dan mengapa tidak semua kaum muslimin di negeri ini melakukan kebiasaan tersebtu? Dengan munculnya pertanyaan seperti itu warga Nahdliyin diberi pengertian untuk menjawab : Apa pujia itu? Bagaimana historisnya? Bagaimana tinjauan hukum syari’at tentang pujian? Dan apa fungsinya?

Pengertian Pujian dan Historisnya
Pujian bersal dari akar kata puji, kemudian diberi akhiran “an” yang artinya : pengakuan dan penghargaan dengan tulus atas kebaikan/ keunggulan sesuatu. Yang dimaksud dengan pujian di sini ialah serangkaian kata baik yang berbahasa Arab atau berbahasa Daerah yang berbentuk sya’ir berupa kalimat-kalimat yang isinya mengagungkan asma Allah, dzikir, do’a, shalawat, seruan atau nasehat yang dibaca pada saat di antara adzan dan iqamat.
Secara historis, pujian tersebut berasal dari pola dakwah para wali songo, yakni membuat daya tarik bagi orang-orang di sekitar masjid yang belum mengenal ajaran shalat. Al-hamdulillah dengan dilantunkannya pujian, tembang-tembang/sya’ir islami seadanya pada saat itu secara berangsur/dikit demi sedikit, sebagian dari mereka mau berdatangan mengikuti shalat berjamaah di masjid.

Pujian Ditinjau dari Aspek Syari’at
Secara tekstual, memang tidak ada dalil syar’i yang sharih (jawa : ceplos) mengenai bacaaan pujian setelah di kumandangkannya adzan, yang ada dalilnya adalah membaca do’a antara adzan dan iqamat. Sabda Nabi SAW :
الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ، فَادْعُوْا. رواه أبو يعلى
Artinya :
“Do’a yang dibaca antara adzan dan iqamat itu mustajab (dikabulkan oleh Allah). Maka berdo’alah kamu sekalian”. (HR. Abu Ya’la)
Kemudian bagaimana tinjauan syari’at tentang hukum bacaan pujian di masjid atau mushalla seperti sekarang ini? Perlu diketahui, bahwa membaca dzikir dan sya’ir di masjid atau mushalla merupakan suatu hal yang tidak dilarng oleh agama. Pada zaman Rasulullah SAW. para sahabat juga membaca sya’ir di masjid. Diriwayatkan dalam sebuat hadits :
عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِى الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَجِبْ عَنِّى اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ. قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ. رواه أبو دادو والنسائي
Artinya :
“Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata : suatu ketika Umar berjalan bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan sya’ir di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab : aku melantunkan sya’ir di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia dari pada kamu, kemudian dia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya, Ya Allah, mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan ruh al-qudus. Abu Hurairah menjawab : Ya Allah, benar (aku telah mendengarnya)”. (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
Sehubungan dengan riwayat ini syaikh Isma’il Az-Zain dalam kitabnya Irsyadul Mukminin menjelaskan : Boleh melantunkan sya’ir yang berisi puji-pujian, nasehat, pelajaran tata karama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid.
Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub hal 179 juga menjelaskan :
وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ اْلأَذَانِ فَقَدْ صَرَّحَ اْلأَشْيَاخُ بِسُنِّيَّتِهِمَا، وَلاَ يَشُكُّ مُسْلِمٌ فِيْ أَنَّهُمَا مِنْ أَكْبَرِ الْعِبَادَاتِ، وَالْجَهْرُ بِهِمَا وَكَوْنُهُمَا عَلَى مَنَارَةٍ لاَ يُخْرِجُهُمَا عَنِ السُّنِّيَّةِ. إهـ
Artinya :
“Adapun membaca shalawat dan salam atas Nabi SAW. setelah adzan (jawa : Pujian) para masyayikh menjelaskan bahwa hal itu hukumnya sunat. Dan seorang muslim tidak ragu bahwa membaca shalawat dan salam itu termasuk salah satu cabang ibadah yang sangat besar. Adapun membacanya dengan suara keras dan di atas menara itu pun tidak menyebabkan keluar dari hukum sunat”.

Pujian Ditinjau dari Aspek Selain Syari’at
Apa yang dilakukan para wali di tanah jawa mengenai bacaaan pujian ternyata mempunyai banyak fungsi. Fungsi-fungsi itu antara lain :
1.    Dari sisi syi’ar dan penanaman akidah.
Karena di dalam bacaan pujian ini terkandung dzikir, seruan dan nasehat, maka hal itu menjadi sebuah syi’ar dinul islam dan strategi yang jitu untuk menyebarkan ajaran Islam dan pengamalannya di tengah-tengah masyarakat.
2.    Dari aspek psikologi (kejiwaan).
Lantunan sya’ir yang indah itu dapat menyebabkan kesejukan jiwa seseorang, menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Amaliyah berupa bacaaan pujian tersebut dapat menjadi semacam persiapan untuk masuk ke tujuan inti, yakni shalat maktubah lima waktu, mengahadap kepada Allah yang Maha Satu.
3.    Ada lagi manfaat lain, yaitu :
-       Untuk mengobati rasa jemu sambil menunggu pelaksanaan shalat berjamaah;
-       Mencegah para santri agar tidak besenda gurau yang mengakibatkan gaduhnya suasana;
-       Mengkonsentrasikan para jamaah orang dewasa agar tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu ketika menunggu sahalat jamaah dilaksanakan.
Dengan beberapa alasan sebagaimana tersebut di atas, maka membaca pujian sebelum pelaksanaan shalat jamaah di masjid atau mushalla adalah boleh dan termasuk amaliyah yang baik, asalkan dengan memodifikasi pelaksanaannya, sehingga tidak mengganggu orang yang sedang shalat. Memang soal terganggu atau tidaknya seseorang itu terkait pada kebiasaan setempat. Modifikasi tersebut misalnya : dengan cara membaca bersama-sama dengan irama yang syahdu, dan sebelum imam hadir di tempat shalat jamaah.
Kalau semua masalah tentang pujian sudah demikian jelasnya, maka tidak perlu ada label “BID’AH DLALALAH” dari pihak yang tidak menyetujuinya.

61 komentar:

Alhamdulillah....setuju banget

Dalil hadist tersebut terlalu dipaksakan karena pada saat melantunkan syair bukan pada saat diantara azan iqomat.... sedangkan ada anjuran Rasullah untuk berdoa pada saat tersebut bukan yang lainnya....

Karena memang bukan merupakan sunnah, maka sepatutnya kebiasaan ini ditnggalkan ! Demikian yang ane terapkan di masjid ane, habis adzan, cukup berdiam diri dan disiisi dengan baca quran, dzikir atau berdoa...!

kita ini sering mengklaim orang lain melakukan bidah padahal hidup kita ini tidak terlepas dr bid'ah contoh kitab Alquran yg kita baca sekarang saja itu bid'ah. krn jamanya Nabi dulu blm ada kitab Alquran dan sampai saat ini blm saya temukan tentang hadits yg menyuruh agar Alquran itu di bukukan.Tolong kalau ada haditsnya kasih tahu saya, terima kasih banyak yg bisa memberitahukan.

diantara adzan dan iqomah, membaca qur'an dengan keras saja ga boleh, khawatir akan mengganggu jamaah lain yg mau sholat sunnah,,, apalagi cuma puji2an?

i Love N.U

memang dlm Al Qur.an dan Hadits tidak di anjurkan :)
akan tetapi APAKAH ADA AL QUR.AN dan HADITS YANG MELARANG nya..??? :)

jika ada.. monggooo..
saya akan berhenti pujian setelah adzan :) karena itu lah yang sering saya lakukan setelah adzan :) itupun... juga ada asal usul nya :)

kembali lagi :D
memang dlm Al Qur.an dan Hadits tidak di anjurkan :)
akan tetapi APAKAH ADA AL QUR.AN dan HADITS YANG MELARANG nya..??? :)

jika ada.. monggooo..
saya akan berhenti pujian setelah adzan :)

saLam Super --> AhluSunnahWalJama'ah

@udin, emang di qur'an n hadist ada terlarang nyimenk? Udahlah din jangan memBABI buta!! Itu SALAH, ganggu orang qobliyah tauk!!!

Jujur sy baru merasakan ketidaknyaman saat mendengar pujia2an yg dilantunkan setelah azan karena skarang sy baru menempati rumah yg baru (pindah rumah). Tidak nyaman nya itu kl sehabis azan sy biasanya melakukan shalat sunat, tp di tempatku yg baru ini selalu melantunkan puji2an yg panjang dan di ulang2 sehingga mengganggu kekhusukan Sy dlm sholat. Bila suatu pekerjaan yg tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW serta dari segi manfaatnya tidak terlalu signifikan bahkan terkesan mengganggu, apakah itu baik?

hanya Allah yang maha tahu apakah ini termasuk bid'ah atau tidak...
sebagai manusia kita hanya bisa berusaha mendekatkan diri pada yang maha kuasa.... sebaiknya hal ini tidak perlu diperdebatkan karena dapat menimbulkan perpecahaan...
bagi yang menggunakan pujian monggo, silahkan, entah itu sunnah atau tidak hanya Allah yg maha tahu, yg penting lillahita'ala
bagi yang tidak menggunakan pujian, monggo, silahkan, semua itu tujuannya karena lillahita'ala, jangan mendebat pendapat lain... karena kita sama-sama berusaha

hanya Allah yang maha tahu apakah ini termasuk bid'ah atau tidak...
sebagai manusia kita hanya bisa berusaha mendekatkan diri pada yang maha kuasa.... sebaiknya hal ini tidak perlu diperdebatkan karena dapat menimbulkan perpecahaan...
bagi yang menggunakan pujian monggo, silahkan, entah itu sunnah atau tidak hanya Allah yg maha tahu, yg penting lillahita'ala
bagi yang tidak menggunakan pujian, monggo, silahkan, semua itu tujuannya karena lillahita'ala, jangan mendebat pendapat lain... karena kita sama-sama berusaha

Semisal kami tanya sama orang yg nyanyi Jawa antara adzan & iqamah itu (termasuk penulis), ketika Anda sedang shalat berjamaah di masjid (misalnya Shubuh) dan ada yg memainkan murattal di HPnya dari awal shalat hingga selesai (dengan volume suara full), atau katakanlah HPnya lupa disilent, lalu ada telpon masuk dan ringtonenya lagu Islami), Anda merasa terganggu atau malah ikutan nyanyi?
Sungguh aneh, di masjid ada tulisan "HP harap dimatikan/silent demi menjaga kekhusyu'an" tapi muadzinnya sendiri mengganggu kekhusyu'an orang yg sedang shalat tahiyatul masjid atau qabliyah, malah dia cari-cari pembenaran. Apa yg ga boleh diganggu tuh cuma shalat wajib aja, lalu orang yg shalat sunnah boleh diganggu? Gimana ya Akhi?
Di antara Imam Syafi`i, Ahmad, Maliki, dan Hanbali, siapa yg shalawatan keras-keras seperti itu? Shalawatan itu sunnah, tapi tentu ada adabnya kan. Anda juga diajari adab dgn kyai Anda. Terlebih lagi, apa di zaman Rasul, para sahabat shalawatan keras-keras-keras antara adzan dan iqamah?

Gutu aja kok repot, cukuplah ngikut keyakinan masing masing aja jauh lebih bijag. Ga usah terlalu memperso'alkan orng lain.. ( kokean wong pinter akhire do rumongso pinter kabeh, pdhl belum tentu , di mata ALLAH SWT..)

Nek masjid kok nyanyi nyanyi koyok wong kresten aneh.

Nek masjid kok nyanyi nyanyi koyok wong kresten aneh.

Nek masjid kok nyanyi nyanyi koyok wong kresten aneh.

Nek masjid kok nyanyi nyanyi koyok wong kresten aneh.

Kalau waliyullah seperti wali songo saja melakukan... Mengapa kita tidak...??? Mereka para waliyullah lebih mengerti daripada kita...

Assalamualaikum akhi ukhti
Mempermasalahkan pujian setelah adzan itu menurut saya itu terserah siapa saja yg mau melakukan monggo, yang tidak juga silakan. Janganlah selalu menganggap sinis model ibadah yang menurut kalian tidak lazim, haruslah tau nilai historisnya. Bagi kami warga Nadhliyin memang sudah terbiasa melakukan pujian setelah adzan. Karena itu adalah yang diajarkan oleh Waliyullah. Sebenarnya jangan terlalu dipermasalahkan karena tujuannya juga baik mengagungkan Allah dan shalawat Nabi. Kekhusyukan orang solat pun diukur oleh yg solat sendiri. Apa iya dengan lantunan seperti itu mengganggu solat qobliyah? saya sendiri menganggap itu bukan pengganggu. Karena solat kita fokusnya ke Yang Maha Kuasa bukan yang disekitar kita. Selama pujian itu tidak terlalu keras dan terlalu mengganggu bacaan solat, saya rasa itu tidak apa. Mari saling menghargai :)
Wassalam

Sholat khusu ma tidak itu trgantung dari hati dan fikiran kita sendiri..

Betul solat itu urusan kita ma yg diatas,n tetgantung dengan niat masing2, ada sahabat nabi yang meninggal ditusuk sampai gak terasa krn saking khusuknya sholat. Nah dlm hal ini pujian sholawatan jelas gak ganggu kalau khusuk ya khusuk aja.jgn pakek alasan krn ada sholawatan terus jadi gak khusuk.lucu bin aneh to kelaut aja

hal ini memang aneh, di negara2 lain itu tidak ada hal seperti yg terjadi d indonesia khususnya tanah jawa timur & bali, padahal tidak ada contoh dr rasulluwllah kok masih juga di tterus kantor
sholawat & pujipujian itu beda,?

Agama g bisa lepas dari budaya, agama islam d tanah jawa ini d bawah oleh para walisongo, beliau adalah waliyullah, dengan santun dapat d terima oleh seluruh masyarakat indonesia, sudah barang tentu sudah di perhitungkan kesyari'annya, tidak menyimpang dari alquran dan hadist, demikian pula hasil ijma' para ulama sepuh kita tentang budaya tersebut, mari kita ramaikan syiar agama islam dengan budaya

Maaf Mas pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Dari mana sampean tahu pujian pujian kepada Alloh dan RosulNya kita lakukan bukan saat diantara azan dan iqomat?. Saya Ustadz NU gimana anda tahu kebiasaan kami kalau ga pernah ikut.
Saya tanya adakah dalil dalam Al Quran dan hadits Nabi yang shohih secara khusus melarang pujian antara setelah azan dan sebelum qomat?. Coba bawa kemari dan jangan pakai dalil bid'ah karena ga semua bid'ah itu sesat.
Kami terbiasa datang sebelum waktu azan tiba kira kira 10 menit daripada ngomong ngelantur gosip kita isi puji pujian. Waktunya azan yaa stop. Selesai azan sholat sunnah qobliyah sambil menunggu imam dan jamaah lain selesai sholat sunnah kami pun zikir, sholawatan bukankah zikir dan sholawatan juga trmsk doa?. Jadi janganlah ga suka lalu sampean juga paksakan pendapat agar tidak melakukannya. Jangan hanya bicara dalil ga boleh... sampean bilang yang boleh berdoa... pertanyaannnya adakah apakah iya sampean lakukan dan yang tkdak sepaham tidak lakukan? Saya sering perhatikan datang pas azan lalu malah ngobrol tuh bukannya ngedoa

Maaf Mas pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Dari mana sampean tahu pujian pujian kepada Alloh dan RosulNya kita lakukan bukan saat diantara azan dan iqomat?. Saya Ustadz NU gimana anda tahu kebiasaan kami kalau ga pernah ikut.
Saya tanya adakah dalil dalam Al Quran dan hadits Nabi yang shohih secara khusus melarang pujian antara setelah azan dan sebelum qomat?. Coba bawa kemari dan jangan pakai dalil bid'ah karena ga semua bid'ah itu sesat.
Kami terbiasa datang sebelum waktu azan tiba kira kira 10 menit daripada ngomong ngelantur gosip kita isi puji pujian. Waktunya azan yaa stop. Selesai azan sholat sunnah qobliyah sambil menunggu imam dan jamaah lain selesai sholat sunnah kami pun zikir, sholawatan bukankah zikir dan sholawatan juga trmsk doa?. Jadi janganlah ga suka lalu sampean juga paksakan pendapat agar tidak melakukannya. Jangan hanya bicara dalil ga boleh... sampean bilang yang boleh berdoa... pertanyaannnya adakah apakah iya sampean lakukan dan yang tkdak sepaham tidak lakukan? Saya sering perhatikan datang pas azan lalu malah ngobrol tuh bukannya ngedoa

Sudahlah jangan diperdebatkan kebiasaan sholawat ada ato tidaknya tergantung tradisi masing2,kita mesti menghargainya

Kekhusukan org sholat tidak dipengaruhi dr suara suara pak...khusuk timbul dari hati...

agama tidak bisa dicampur dengan budaya, harusnya budaya mengikuti agama, bukannya agama mengikuti budaya....kalau sudah ada amalan yang pasti kenapa harus melakukan amalan yang tidak pasti & jelas...kadang baik bagi kita tapi tidak baik bagi Allah, dan kadang tidak baik bagi kita tapi baik bagi Allah sesungguhnya Allah maha mengetahui....

Kalo saya selalu sholawatan (misal sholawat nariyah) panjenengan terganggu???
Emang sini siapa yg sholatnya khusyuk?
Coba kalo seumpama anda sholat dirumah suasana sepi, hening. Tiba2 ujan dan jemuran anda blm diangkat. Saya yakin pasti pikiran anda kesitu.. padahal ujan itu berkah dr ALLAH SWT.. apa ya anda mau menyalahkan ujan??

Tidak perlu pengeras suara,,
Tidak ada di jaman Rasulullah,,titik

Tidak perlu pengeras suara,,
Tidak ada di jaman Rasulullah,,titik

Jelas Ganggu yang lagi sholat sunnah qabliyah,jadi nggak konsentrasi bacaan sholatnya dan mengurangi kekhusyukan.

Kalian semua juga koment doang ga ada sumber dalilnya, terangkan jangan cuma ngomong ga boleh lah, boleh lah dan ga bener lah, benar lah pada sotoooy

Mensyiarkan Islam itu dg budaya setempat yg di isi dg nilai 2 Islam, agar dakwah bisa diterima,karna Islam turun bukan di wilayah yg kosong budaya. Pada saat Islam turun bangsa arab sdh berbudaya tinggi, dan Islam mengakomodasi budaya tsb

Mensyiarkan Islam itu dg budaya setempat yg di isi dg nilai 2 Islam, agar dakwah bisa diterima,karna Islam turun bukan di wilayah yg kosong budaya. Pada saat Islam turun bangsa arab sdh berbudaya tinggi, dan Islam mengakomodasi budaya tsb

assalamu'alaikum
sebelumnya maaf
kalian yang merasa sholatnya terganggu karena pujian di masjid sholat sunnahnya di rumah aja.. atau kalau gak mau telinganya di tutupi dengan sesuatu sampe suaranya gak kedenger....
gitu aja repot..
lagiankan pujiankan ada dalilnya

Pernah baca sidang wali? Hanya sunan Kalijaga yg memperbolehkan. Menurutnya kelak akan ada yg meluruskan.. Ehhh malah jadi tradisi

Kenapa waliyullah melakukan itu? Karena waktu itu masyarakat Jawa mayoritas Hindu Budha. Jadi beliau memperkenalkan agama Islam dengan sedikit membayar tradisi dan budaya tersebut (sunan kalijogo) . sunan Ampel tidak setuju karena dianggap menyimpang dari agama Islam. Tp sunan kalijogo ttp ngotot dan berkata kelak akan ada yg meluruskan ajaran itu. Ehhh.. Tapi sampai sekarang malah jadi tradisi.. Bisa dibilang di Jawa ini agama islamnya Hindu Budha yg di modifikasi

Kenapa waliyullah melakukan itu? Karena waktu itu masyarakat Jawa mayoritas Hindu Budha. Jadi beliau memperkenalkan agama Islam dengan sedikit membayar tradisi dan budaya tersebut (sunan kalijogo) . sunan Ampel tidak setuju karena dianggap menyimpang dari agama Islam. Tp sunan kalijogo ttp ngotot dan berkata kelak akan ada yg meluruskan ajaran itu. Ehhh.. Tapi sampai sekarang malah jadi tradisi.. Bisa dibilang di Jawa ini agama islamnya Hindu Budha yg di modifikasi

Pernah baca sidang wali? Hanya sunan Kalijaga yg memperbolehkan. Menurutnya kelak akan ada yg meluruskan.. Ehhh malah jadi tradisi

Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, yaitu dengan suara pelan, kecuali ada dalil yang menunjukkan (harus) diucapkan dengan keras. Allah berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raf : 205].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Oleh karena itulah Allah berfirman:
وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ (dan dengan tidak mengeraskan suara), demikianlah, dzikir itu disukai tidak dengan seruan yang keras berlebihan.” [Tafsir Ibnu Katsir].

Al Qurthubi rahimahullah berkata,”Ini menunjukkan, bahwa meninggikan suara dalam berdzikir (adalah) terlarang.” [Tafsir Al Qurthubi, 7/355].

Muhammad Ahmad Lauh berkata,”Di antara sifat-sifat dzikir dan shalawat yang disyari’atkan, yaitu tidak dengan keras, tidak mengganggu orang lain, atau mengesankan bahwa (Dzat) yang dituju oleh orang yang berdzikir dengan dzikirnya (berada di tempat) jauh, sehingga untuk sampainya membutuhkan dengan mengeraskan suara.” [Taqdisul Asy-khas Fi Fikrish Shufi, 1/276, karya Muhammad Ahmad Lauh].

Abu Musa Al Asy’ari berkata.

لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ لِي يَا عَبْدَاللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yang tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kamu (dengan ilmuNya, pendengaranNya, penglihatanNya, dan pengawasanNya, Pen.).” Dan saya (Abu Musa) di belakang hewan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendengar aku mengatakan: Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kemudian beliau bersabda kepadaku,”Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa).” Aku berkata,”Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanan-simpanan surga?” Aku menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda,”Laa haula wa laa quwwata illa billah.” [HR Bukhari, no. 4205; Muslim, no. 2704].

Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, yaitu dengan suara pelan, kecuali ada dalil yang menunjukkan (harus) diucapkan dengan keras. Allah berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raf : 205].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Oleh karena itulah Allah berfirman:
وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ (dan dengan tidak mengeraskan suara), demikianlah, dzikir itu disukai tidak dengan seruan yang keras berlebihan.” [Tafsir Ibnu Katsir].

Al Qurthubi rahimahullah berkata,”Ini menunjukkan, bahwa meninggikan suara dalam berdzikir (adalah) terlarang.” [Tafsir Al Qurthubi, 7/355].

Muhammad Ahmad Lauh berkata,”Di antara sifat-sifat dzikir dan shalawat yang disyari’atkan, yaitu tidak dengan keras, tidak mengganggu orang lain, atau mengesankan bahwa (Dzat) yang dituju oleh orang yang berdzikir dengan dzikirnya (berada di tempat) jauh, sehingga untuk sampainya membutuhkan dengan mengeraskan suara.” [Taqdisul Asy-khas Fi Fikrish Shufi, 1/276, karya Muhammad Ahmad Lauh].

Abu Musa Al Asy’ari berkata.

لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ لِي يَا عَبْدَاللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yang tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kamu (dengan ilmuNya, pendengaranNya, penglihatanNya, dan pengawasanNya, Pen.).” Dan saya (Abu Musa) di belakang hewan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendengar aku mengatakan: Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kemudian beliau bersabda kepadaku,”Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa).” Aku berkata,”Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanan-simpanan surga?” Aku menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda,”Laa haula wa laa quwwata illa billah.” [HR Bukhari, no. 4205; Muslim, no. 2704].

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hukum Membaca Al Qur’an dengan Keras Ketika Ada Orang Sholat

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Pertanyaan :

وَسُئِلَ – رَحِمَهُ اللَّهُ – :
فِيْ مَنْ يَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ وَ النَّاسُ يُصَلُّوْنَ فِيْ المَسْجِدِ السُّنَّةَ أَوْ التَّحِيَةَ. فَيَحْصُلُ لَهُمْ بِقِرَاءَتِهِ جَهْرًا أَذًى, فَهَلْ يُكْرَهُ جَهْرُ هَذَا بِالْقِرَاءَةِ أَمْ لَا ؟
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah pernah ditanya,

“Tentang orang yang membaca Al Qur’an di mesjid dengan menjahrkannya/mengeraskan suaranya sedangkan pada saat itu ada orang yang sedang sholat sunnah di mesjid atau tahiyatul mesjid. Sehingga orang yang sedang sholat tersebut merasa terganggu dengan bacaan yang dijahrkan tersebut. Maka apakah membaca Al Qur’an ketika keadaan seperti ini dengan menjahrkan makruh/dibenci hukumnya atau tidak ?”

Jawab :

فَأَجَابَ :

لَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يَجْهَرَ بِالْقِرَاءَةِ لَا فِي الصَّلَاةِ وَلَا فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ إذَا كَانَ غَيْرُهُ يُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُؤْذِيهِمْ بِجَهْرِهِ ؛ بَلْ قَدْ { خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ فِي رَمَضَانَ وَيَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ . فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ كُلُّكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ } .

Beliau Rohimahullah menjawab,

“Tidak boleh bagi seseorang menjahrkan/mengeraskan bacaan Al Qur’annya baik itu di dalam sholatnya ataupun di luar sholatnya jika orang selain dirinya yang sedang sholat di mesjid merasa terganggu dengan bacaan Al Qur’annya yang dijahrkan. Bahkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah menegur orang yang ketika itu dia sholat dengan mengeraskan bacaannya di Bulan Romadhon. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan,

أَيُّهَا النَّاسُ كُلُّكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ
“Wahai manusia sekalian. Sesungguhnya seluruh kalian sedang bermunajat kepada Robb nya maka janganlah sebagian kalian mengeraskan suaranya atas orang selainnya”[1].

Tapi itu sangat mengganggu sekali....apalagi dengan bersuara keras menggunakan speaker dalam masjid. Untuk yang sedang shalat sunat Qobliyah sangat terganggu.
Dalilnya tidak shahih dan terlalu dipaksakan.... malah bertentangan dengan dalil2 shahih yang menganjurkan berdo'a antar adzan dan iqomat dan tidak mengeraskan suara/berkata2 apalagi bersenandung apabila ada yang sedang sholat.
Semoga bisa mencerahkan dan diberi hidayah.....Amin.

Pencetakan Qur-an bukanlah bid'ah sebab syariatnya atau isinya tidak ada yang diubah. Bid'ah itu membuat syariat baru yang tidak pernah dijelaskan oleh Qur'an dan tidak pernah diajarkan oleh rasul. Kalau puji-pujian dgn suara keras disyariatkan oleh rasul tentu rasul sebagai manusia yang paling baik ibadahnya sudah lebih dahulu mempraktikannya. begitu pula generasi terbaik setelah nabi yakni para sahabat( khulafaur rosidin)yang sangat taat pada Allah dan sangat taat kpd nabi tidak pernah mempraktikan puji-pujian semacam itu.

Kalo memang tidak suka atau merasa hatinya panas atau merasa terganggu dengan adanya lantunan sholawat/puji pujian menyebut asma Allah ya monggo.. tp tdk perlu menyalahkan orang lain yg merasa nikmat luar biasa dalam memuji asma Allah dan Rasul_Nya...hendaklah jgn mengatasnamakan kepentingan orang lain kalo toh itu hanya pendapat/keinginan pribadi semata...

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾

aneh memang kebanyakan orang islam jaman sekarang ini yang sunah malah ditinggalkan yang ga jelas asalnya malah dipertahankan, seakan itu sudah tradisi, agama jangan dicampur tradisi bro, setelah adzan ya sebaiknya sholat sunnah yg sudah jelas hukumnya, kok malah nyanyi yg ga tau buatan siapa, apa bener wali Allah seperti itu suka nyanyi di masjjid

yg melakukan syiiran dlm masjid jg sdh tahu itu bagian dr budaya. tdk semua budaya non-arab itu jelek. bisa sbg media dakwah.
Pertama, dari sisi dalil, membaca syair di dalam masjid bukan merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Pada masa Rasuluhah SAW, para sahabat juga membaca syair di masjid. Dalam sebuah hadits yg sdh tercantum di atas:


Dari Said bin Musayyab, ia berkata, "Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, `aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorangyang lebih mulia darimu(Nabi). Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus. Abu Hurairah lalu menjawab, Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).' (HR Abu Dawud [4360] anNasa'i [709] dan Ahmad [209281).

Mengomentari hadits ini, Syaikh Ismail Az-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan syair yang berisi puji-pujian, nasihat, pelajaran tata krama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid. (Irsyadul mu’minin ila Fadha'ili Dzikri Rabbil 'Alamin, hlm. 16).

tp saya sadar adu dalil spt ini pun kurang ngefek. krn kecenderungan org mengikuti sebuah aliran,sekte,atau ideologi sebenarnya lebih didasari aspek psikologis seperti kedekatan emosi dan insting primordial. jgnkan hanya soal furu' spt ini, membunuh sesama muslim dg mengebom masjid yg sedang ada jumatan saja bisa dicari rasionalisasinya dg dalil-dalil hadis bahkan al-Qur'an. spt yg dilakukan ISIS.

ketika saya merayakan kelahiran Nabi dengan sholawatan maulidurrasul orang yang beda faham dan aliran memprotes hal tsb sbg bid'ah. gak ada dalilnya di al-Qur'an atau hadist. saya hanya berkata dlm hati: "dia merayakan ulang tahun anaknya gk dicari dalilnya, saya merayakan ulang tahun idola dan panutan saya kok disuruh-suruh nyari dalilnya".

Yg salah tu yang gak shalat dan gak shalawatan.

Kalau ada orang lagi sholat, ya jangan dikeraskan lah pujiannya. Gx semua orang sehebat anda bisa fokus saat sholat dan tanpa merasa terganggu jika di tengah bunyi2an keras. Bacaan Al Quran saja lebih baik dipelankan suaranya saat ada orang sholat didekatnya.

Jangan terlalu menyibukan diri dengan perpecahan, perselisihan. Tapi sibukkan dengan ilmu. SIBUKAN DENGAN ILMU, SIBUKKAN DENGAN ILMU. Kemudian BERAMAL SHALIH.

sip..setuju tuh pak ustad...mana mungkin ada larangan akan puja dan puji akan hal yg baik didalam islam...

kalo didunia ini ada pakar agama yg bisa memberikan sepotong ayat dalam alqur'an atau hadist yg menentukan waktu dan jamnya untuk membaca shalawat dan istigfar.maka saya akan berhenti untuk puji2an di dalem masjid atau musolah setelahsaya adzan,karena isi puji2an saya setelah adzan adalah memuji AllahSWT solawat dan istigfar dan nasehat2 tentang agama.kalo semua mengklaim saya membaca solawat dan istigfar setelah adzan itu bid'ah dholalah maka sesungguhnya anda2 semua yg sesat,karena ALLah saja dan para malaikatnya juga bersolawat kepada nabi Muhammad SAW.dan itupun tidak ditentukan dimana dan kapan.bahkan dianjurkan setiap waktu.terimakasih.

1.Berdo'lah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan perlahan
lahan,karena sesungguhnya Tuhan Alloh itu tidak senang dengan
orang orang yg melebihi batas(dalam berdo'a).
(Q.S .7.Al A'rof:55)
2.Dan ingatlah(sebutlah)Tuhan dalam dirimu dengan merendah di
ri serta rasa takut dan dengan suara yg tidak keras.
(Q.S.7.Al A'rof :205)
3 Dan perlahankanlah suaramu,oleh karena sejelek jelek suara
itu suara himar.(Q.S.31.Lukman:19)
4.Telah berkata Ibnu Umar:Sesugguhnya Rosululloh S.A.W.pernah
keluar (dari rumah ke masjid)pada waktu itu para sahabatnya
sedang sholat,dan masing masing saling mengeraskan bacaanya
Maka Rosululloh S.A.W bersabda:Sesungguhnya orang yg sholat
itu sedang berbisi bisik dengan Tuhannya Yang Maha Mulia,
Oleh karena itu hendaklah ia perhatikan(rasakan dlm hati)a-
pa yang sedang dibisikkannya itu.dan janganlah kamu saling
mengeraskan bacaan Qur'an hingga mengganggu yg lain.
(H.S.R.Ahmad )S.J.11/844.
5.Telah berkata Sa'id:Saya telah mendengar dari pada Rosulull
oh S.A.W bahwa beliau bersabda:"Sesungguhnya akan ada suatu
kaum yang melanggar batas di dalam berdo'a"
(H.S.R.Abu Dawud dan Ibnu Majjah)

Semoga ini bisa jadi petunjuk Amien...

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More