Senin, 22 Agustus 2011

MEMBACA DIBAI'YYAH / DIBA' AN DAN SHALAWATAN

Pengertian Diba’an
Sebagaimana kita ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau tulisan singkat yang berisi bacaan shalawat. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Nabi yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berbentuk buku atau kitab antara lain : shalawat Dala'il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba'iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berbentuk tulisan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah. shalawat Badriyah dan lain- lain.
Dari sekian banyak kitab yang berisi bacaan shalawat tersebut ada yang paling terkenal dan sering dibaca yang diadakan oleh warga Nahdliyyin, antara lain adalah shalawat Diba’iyyah.
Jadi pengertian Dibaan adalah : membaca kitab yang berisi bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Dibai.

Hukum Membaca Diba'iyyah dan Shalawatan
Membaca shalawat Diba’iyyah atau shalawat yang lain menurut pendapat yang tersohor di kalangan Jumhurul Ulama adalah sunnah Muakkadah. Kesunatan membaca shalawat ini didasarkan pada beberapa dalil, antara lain:
a.    Firman Allah SWT.
Artinya :
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan sampaikanlan salatu penghormatan kepadanya. (QS. AI-Ahzab : 56)
b.    Sabda Nabi SAW.:
صلوا علي، فإن الصلاة علي كفارة لكم وزكاة. [رواه ابن ماجه]
Artinya :
“Bershalawatlah kamu untukku, karena membaca shalawat untukku bisa mengahapus dosamu dan bisa membersihkan pribadimu”. (HR. lbnu Majah)
c.    Sabda Nabi SAW. :
زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة. [رواه الديلمي]
Artinya:
“Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”. (HR. Ad-Dailami).

Fadlilah Membaca Shalawat
Seseorang yang ahli membaca shalawat akan diberi anugerah oleh Allah, antara lain :
a.    Dikabulkan do’anya
الدعاء كله محجوب حتى يكون أوله ثناء على الله عز وجل وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو فيستجاب له لدعاءه. [رواه النسائي]
Artinya:
“Setiap do’a adalah terhalanh, sehingga dimulai dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi, kemudian baru berdo'a dan akan dikabulkan do’a itu”. (HR. Nasa’i).
b.    Peluang untuk mendapat syafa'at Nabi pada hari kiamat.
b.    Dihilangkan kesusahan dan kesulitannya.
c.    Dan lain-lain.

Cara Membaca Diba’iyyah dan Shalawat Nabi
Dibaca dengan kesungguhan dan keikhlasan hati serta diiringi rasa hormat dan mahabbah/cinta kepada Rasulullah SAW.
Jelas sekali dalalah ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut bahwa kita sebagai ummat Muhammad diperintahkan untuk membacakan shalawat kepada Nabi SAW. dengan tujuan untuk mengagungkannya sekaligus mengharapkan barokahnya sewaktu kita masih hidup di dunia dan agar mendapat syafa’atul udzma ketika kita berada di alam mahsyar kelak.

65 komentar:

sepengetahuan saya asal ibadah adalah haram. jadi dalam ibadah itu semuanya haram kecuali yang diperintahkan atau dicontohkan nabi. sedangkan bid'ah adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan nabi dan tidak ada perintah (dalam hal ibadah), disebutkan bahwa semua bid'ah dalam hal ritual ibadah adalah dholalah. aku tidak pernah menemukan dalil yang menyatakan bahwa bid'ah itu dibagi menjadi 2 yaitu bid'ah hasanah dan bid'ah dholalah.
sedangkan aku juga pernah membaca hadis dari siti aisyah bahwa melakukan ritual agama yang sebenarnya tidak berhubungan dengan agama itu dilarang. nah, masalah sholawat, bukankah sudah dicontohkan? ada yang mengatakan bahwa kalau membaca diba' diniatkan sebagai ritual keagamaan itu tidak boleh. karena kaidahnya, dalam ibadah semuanya haram kecuali yang diperintah dan dalam hal mu'amalah semua boleh kecuali yang dilarang

pokoknya niat membaca sholawat aja lah
mengharap syafaat nabi muhammad
gk usah ngurusin bid`ah

insya A;llah jika diperdebatkan tak akan pernah selesai sauaraku, kita punya sandaran masing masing dan sejauh mana pengetahuan kita tentang sejarah, bahasa, matan dan asbabul hal adalah mencerminkan bagaimana kita...... andai ingin berdebat insya Allah jika beda pandangan, tendensi dan pengetahuan dasar, semua hanya jadi perdebatan tanpa ujung.... mari jalin silaturahmi di antara perbedaaan yang akan jadi rahma........Jika ujung -ujungnya kurang menerima pendapata orang lain.... silahkan ke para Alim Ulama dan guru yang mumpuni kedalaman ilmunya......
wahai pemilik blog ini kunjungi juga rumah ana ya di http://pencintaalqurandansholawat.blogspot.com/

allah yang mengabulkan , nabi yang menyampaikan.. karena nabi adlah Kekasih allah jadi kita harus mencintai seseuatu yang di cintai allah juga.. banyak keajaiban dari shalawat yang sudah saya alami

mbak nul, yang terhormat.
klo pengetahuannya sampai disitu, jangan suka pakai dholalah orang lain, kok bisa spyn bilang setiap ibadah haram baru kali ini saya dengar. apa sih pengertian ibadah kok seenaknya pakai haram2 an. kalo masih dangkal jangan pake ngurusi orang nanti tambah sesat dosamu tambah banyak. wassalam ( mudah2an anti dapat petunjuknya)

Perbedaan dalam menyikapi sebuah pendapat adalah indah. Kita semua bisa berargumen masing -masing menurut kemampuan dan daya ilmu kita. Tapi jika niat kita baik Insya Alloh akan melahirkan sesuatu yang baik. Jadi yakinlah pada niat kita,,kita harus bisa menghormati pendapat orang lain karena ada sebuah hadits yang mempunyai arti bahwa kita diwajibkan mencari ilmu dari buaian sampai liang lahat. Untuk masalah di atas ya tergantung keyakinan masing -masing semua tergantung ridho dari Alloh SWT. Ya teruslah mencari ilmu agama nanti Insya Alloh ditunjukkan jalannya. Kalau saya ya tetap bersholawat kepada nabi saya,,

Mbak Nul belajar dulu aja yang bener ya..... jangan ngelantur... nanti kecebur....

Assalamualaiku,, jng gmpangken kafirnya orang lain kafire dewe gak dipikrke.,,,, jng gampang bilang haram ,, dak bagus dak mathuk

@mbak ainul percaya Al.qur'an kan? la trus mbk taukn apa yg dmaksud dg firman Alloh (QS. AI-Ahzab : 56).. truz tau sejarah Rosul Hijrah saat perang Badar? Rosul dsmbut dg sholawat Badar dg para sahabat.. Rosul tidak melarang/ mngharamkan itu? kok Ada yg brani mengharamkn...? pasti ikut aliran sesat ya? O:-)

kita ini orang Indonesia, asal yang bahasa arab pokoknya bener aja deh..
kita harus mengerti dulu isi dari sholawat itu, karena kadang terdapat isi sholawat yang men-Tuhan-kan nabi, malah jadi syirik jatuhnya. Kalau sholawat yang di buat oleh manusia, ya coba kita teliti dahulu, Kalau yang diajarkan Rasulullah itu kan sudah tidak diselisihi, Alloh pun bershalawat atas Nabi. Coba lah cek satu2 sholawat itu, kalau bener ya ngk masalah kali, tapi kalo ngk bener nanti kita jadikan adat kebiasaan sampai kita mati, wahh..

Jadi ingat film "Bajaj Bajuri", pas kendurian yang mimpin orang Arab, pas selesai doa, arabnya hanya ngomong/bergumam diluar konteks doa, pesertanya amin..amin...amin..

hehehe..orang Indonesia manut wae..

@Hery : Saya jd tertantang dg bahasa bang Hery "Karena kadang terdapat isi sholawat yang men-Tuhan-kan nabi, malah jadi syirik jatuhnya" Gini akhy, semua muslim itu tau baginda nabi Muhammad itu bukan tuhan, melainkan nabi dan rasul.. Anda terkesan Lebay dan Operdosis dalam menafsiri hati muslim lainnya..

Trus selain shalawat yang langsung dari Allah salah gitu maksdnye ? Nah, ntu gimana shalawat yg dibuat Shabat Umar bin khatab, Ibnu Mas'ud dll. itu ? Apa antum tega sampai hati ngatain sahabat pembuat shalawat itu Shabat itu musyrik ?

SEbaiknya kuasai suatu masalah dg menyeluruh baru menetapkan hukum, biar gk rancu bang...

Mungki. Sdri perlu perlu gali lebih dalam tentang hadits dan sejarahnya

Mbak ainul, dan semuanya. Maaf sebelumnya jika ada salah kata nantinya. Yang jadi dasar adanya bid'ah hasanah dan dholalah. Syaidina abu bakar pernah memerintahkan sholat tarawih berjamaah walaupun sudah tidak di lakukan nabi Muhammad SAW, dan beliau berkata inilah bid'ah sebaik-baiknya bid'ah. Mengambil hikmah dari turunnya wahyu pertama adalah iqra = bacalah, apakah arti iqra hanya membaca dalam arti harfiah? Apa dan bagaimana menyikapi keadaan / situasi tidak boleh di sebut membaca? Dan masih banyak lagi arti dan maksud iqra tersebut. Itulah mengapa dari dulu perbedaan dalam menafsirkan sebuah ayat selalu ada. Jika di jaman nabi kita mungkin bisa bertanya lsg maksud sebenarnya. Marilah kita belajar menghormati perbedaan seperti yg di contohkan oleh imam mahzab.

semuanya, saya pikir semuanya itu ada ilmunya, perbedaan ini mngkin didasarkan pada kurangnya ilmu kita, ada yg mengatakn haram karn mungkn ilmunya masih dangkal, maaf, jadi jngn mengatakan bahwa sesuatu itu haram, mungkin kita belm mempelajarinya sehingga kita tidak tahu lebih jauh.
ya macam sholawat ini , jngn mengatakan haram langsung apabila kita mengatakan "menurt sepengetahuan saya", mungkn saja ada orang yg ilmunya lebih tinggi diatas anda,
ya hargailah perbedaan pendapat oleh hati bersih dan pikiran tengan, insya alloh indah...
:)

Salam'alaikum diajeng +Ainul M. anda sangat betul bidang ini, tapi bidang perintah yang lain bagaimana ?
Mohon tengok Ayat : wa maa kholaqtul jinna wan insaa illa liya'budun.= dan tidaklah aku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali hanya untuk liya'budun /ibadah. kita diberi hidup 24 jam. berapa menit atau berapa jam anda gunakan untuk ibadah kepada Alloh. Maaf. semoga kita diberi keluasan hati menangkap ilmu Alloh. Kalau kita mampu beribadah 5 jam sehari semalam, berarti 19 jam bukan untuk ibadah. maka 19 jam kita sedang melakukan bid'ah. 19 jam kita menambah kegiatan yang tidak diperintahkan Alloh. semua yang tida diperintahkan oleh Alloh , termasuk bid'ah, itu dilarang , Perintah Rosululloh itu pasti perintah Alloh. dan sebaliknya.
Hati hati diajeng +Ainul M.

Kami menyadari tidak mampu melaksanakan ibadah 24 jam sehari semalam. maka kami ini ahli bid'ah. makanya banyak ulama mengungsi kepangkuan Rosululloh SAW, dengan mengungkapkan kerinduannya, dengan rasa cintanya, dengan menyanjungnya,

Ingat . kalau bahasa dibuat percaturan, maka tergantung kemampuan seseorang dalam berbahasa, tinggal mateqiyahnya saja.Tinggal bagaimana Interpretasinya. kalau hanya untuk mebenarkan yang hanya dibatasi oleh kemampuan akal kita masing masing. maka semua manusia itu melakukan bid'ah. hanya saja ada yang sifatnya merawat orang lain dan yang satunya merusak orang lain. tinggal pilih. mau jadi tukang merawat orang lain apa tukang merusak orang lain.

Ini cuma pendalaman bahasa, bukan pendalaman tauhid. Kalau manusia itu sudah diberi stempel Dho'if / Lunglai. jangankan membenarkan orang lain. membenarkan diri sendiri aja tak mampu.

Beliau beliau para 'Alim ulama itu sudah biasa bertemu Rosululloh, sedangkan kita apa. sudah membaca sholawat , tidak menyaksikan kehadiran Rosululloh SAW.

Ibarat orang makan nasi , tapi piringnya kosong tidak ada nasinya.

Jelas waktu Sholat kita baca tahiyat . disitu ada bacaan Assalamu'alaika ayyuhan nabi....................bukan Assalamu 'alaihi.

Kalau makna 'alaika itu kepadamu , maka harus berhadapan .
Kalau makna 'alaihi itu kepadanya , jelas tidak berhadapan . boleh di samping , juga boleh di belakang.

Kenapa Sholat kok bacaannya menghadap Nabi .

Maaf seribu maaf. kami tidak boleh menjawab , tanyakan sendifri aja kepada yang menyuruh kita Sholat.

Maaf seribu maaf. daripada anda terus menerus menyakiti ruhaninya para Alim pendahulu kita , lebih baik tidak diteruskan . aku bikin baju lalu disobek sobek oleh seseorang. tentu aku tak suka . Alloh juga begitu . membid'ahkan orang kalau tidak hati hati sama dengan membid'ahkan yang mebuat / yang menciptakan

Hati hati diajeng. aku tulis ini sebab diperintah memberantas kemungkaran . orang mebid'ahkan orang lain itu mungkarot.

Aku mahluq tidak bisa bicara, aku mahluq bicara sebab yang menciptakan mahluq memaksa bicara , memaksa bergerak , Kekuasaan Alloh yang maha memaksa.

Maaf yaa .

coba baca kitab mafahim yajibu antushohhah... disitu bisa dijelaskan

saudaraku semua, kita kan selalu berdoa 17 kali minta jalan yang lurus, dan jalan itu jalan orang mendapat ni'mat dari Allah, bukan jalan orang yang dimurka dan bukan jalan jalan orang yang sesat, dimurka karena ada ilmu tidak ada amal, sesat karena beramal tanpa ilmu dan dalil yag benar, apakah anda mengingkari doa anda sndiri? dan jangan buat seenaknya sendiri, kalau anda ingi selamat ikuti jalan nabi anda, pasti selamat deh, gak usah macem-macem buat-buat dan ada-ada

Suatu hari Nabi bertanya kepada Bilal ( Muazin )
"Wahai Bilal, amalan apakah yang kamu kerjakan sehingga terompahmu sudah berjalan - jalan di surga,?
Bilal menjawab : "Setiap selesai berwudhu saya sholat sunat ya Rasul"
Rasulullah lalu bersabda "Karena amalanmu itu wahai bilal, maka engkau dirindukan surga"
SUBHANALLAH....

janganlah saling menyalahkan
hidup itu yang penting menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT
satu lagi bukankah nabi Muhammad SAW pernah bersabda ikutilah ibadah yang aku ajarkan kepadamu maka kau akan selamat, janganlah kau tambahi dan janganlah kau kurangi, sesungguhnya itu ibadah yang sia-sia.

janganlah kau mengkultuskan aku seperti Isa as sehingga cintamu kepadaku lebih besar dari pada cintamu kepada Allah SWT

sesungguhnya suatu saat nanti banyak sekali kelompok2 islam tapi bukan islam berhati-hatiah.

Rasulullah SAW meninggal karena agama islam sudah sempurna jadi buat apa kau otak atik, tugas kita adalah menjaga dan merawatnya dihati kita, sesungguhnya kau yang menambahi adalah orang yang sombong dan yang mengurangi adalah orang yang jahlun

Salah satu bentuk varian dajjal : Anda bisa melihat dajjal dari apa yang tertulis di jidat dan bisa dibaca(dimengerti) oleh orang beriman yang bisa tulis-baca maupun tidak... itulah maknanya ideologi berfikir aliran gue bener lu salah dibalik jidat itu, dajjal buta sebelah kanan matanya....itulah maknanya dia tidak bisa melihat kebaikan2 pada saudaranya sesama muslim kecuali kesalahannya semua, atau diremehkan amal2nya disangka ahli bid'ah....dajjal merambah seluruh dunia kecuali makkah dan madinah...aliran transnasional ini akan di promosikan dengan hebat keseluruh dunia dengan dukungan dana yang besar tapi dia tetap tidak akan bisa menjadi aliran yang utama di mekkah dan madinah karena masih banyak ahli ilmu yang tidak sepaham di sana...jadi awas dajjal sudah exist diantara kita (Rosulullah bersabda dajjal ada diantara kita) .......#mode tafsiran asal ON

Sholawat itu bukan bid'ah. Tapi sunnah taqririyyah.
Sunnah itu ada tiga macam :
1. Sunnah qouliyyah.
Yaitu apa saja yg nabi sabdakan dan kita ikuti itu berarti sunnah qouliyah.
2. Sunnah fi'liyyah.
Yaitu apa saja yg nabi lakukan/kerjakan trus kita ikuti itu namanya sunnah fi'liyyah.
3. Sunnah taqririyyah.
Yaitu apa saja yg dilakukan sahabat nabi dan nabi mengiyakan ndan merestuinya maka hukum dari yg dilakukan sahabat nabi itu adalah sunnah taqririyyah (ditetapkan nabi)
sejarahnya sholawat itu ada pada cerita Ka'ab bin Zuhair bin Abi Salma.. bukti sejarah itu masih ada di museum turky deket masjid HayaShofiya berupa slimut pemberian nabi yang di sebut burdah.

Klu kayak gini apa pada g malu dilihat lain agama islam,,?????

Kata islam itu satu(1) tapi ko pada keminter semua,,

Masalah keyakinan ya biarin aja orang mau bilang A B atau C.,

yang penting itu menata diri kita aj meyakinkan diri kita masing,,
jadi orang itu harus punya prinsip bukany malah saling pinter pinteran,,

Nata diri sendi aja blum tentu bener ko' pada sibuk minterin orang lain

Allahumashalialasayiddina Muhammad, shalawat dan salam selalu tercurah untuk junjungan Nabi SAW... pertahankan ukhuwah islamiyah,,jangan sembarangan ngejudge orang

mari bersama membangun islam yang jaya di bumi ini,, mari belajar menghargai endapat orang lain, jangan menyalahkan hukum sebelum ada dalil yang melarangnya , heheheh

allahuma soli ala sayidina wamaulana muhammad saw,,,
semoga kita mendapatkan safaat nabi muhammad saw.. amiiiin

alloh maha mengetahui
manusia hanya berusaha
untuk menjadi yang terbaik sesuai yang diketahuinya
jika kita benar, alhamdulillah
jika kita salah, beristighfarlah
yang penting kita selalu berusaha menjadi yang terbaik demi mencapai ridhoNYA



amin ....

Wahai.........kaum Wahhabiyyun:
Kita Ahlussunnah wal Jamaah punya dalil dan kalian punya dalil, sedangkan penentu benar dan tidaknya adalah Allah. Biarkan Allah yang memutuskan kelak setelah kita mati, jangan menjadi tuhan palsu di tengah para pengaku tuhan.

assalaamu 'alaikum. de ainul bukan tidak menemukan tapi yang tepat belum menemukan .. saya akan menyenter masalah bid'ah tidak ada pembagian nya kalau begitu seluruh muslim bakal masuk neraka satu saja conto umat islam di seluruh dunia mengerjakan solat taraweh berjama'ah itu tidak ada dari nabi nya karena yg pertamakali adanya berjama'ah taraweh adalah zaman sayyidina umar ke dua rosul mengerjakan taraweh cuma 3 malam ke empat dan seterusnya di rumah nah kalau bid'ah semuanya dolalah umat islam sekarang semuanya masuk neraka dst

Tandanya ente kurang elmu, si nul lebih pinter dari ente

BID’AH HASANAH
Salah satu permasalahan yang muncul ditengah warga Nahdiyin adalah pemahaman tentang bid’ah hasanah, ada atau tidak, diperkenankan atau tidak. Untuk menjawab permasalahan tersebut pembaca dapat merujuk keterangan dan dalil-dalil dalam bentuk susunan dialog di bawah ini:
Penanya: “Apakah bid’ah hasanah yang anda yakini ada dan anda amalkan adalah hasil dari perasaan yang digunakan dalam memahami agama?”
Warga NU: “Dalil yang dikemukakan oleh para ulama seperti kami kutip dan pakai, bukan hasil perasaan, akan tetapi pandangan ulama yang memiliki keilmuan yang memadai, selevel al-Imam Abu Syamah, Ibnu Taimiyah, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafizh al-Suyuthi dan lain-lain.”
Penanya: “Menambah dzikiran/bacaan baru dalam ibadah yang dianjurkan jelas tidak boleh, berdasarkan hadits ini: Dari Nafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)” Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi Beliau mengajari kami untuk mengatakan : “Alhamdulillah” ‘alaa kulli haal (Alhamdulillah dalam segala kondisi). [HR. At-Tirmidzi no. 2738, Hakim 4/265-266, dan yang lainnya dengan sanad hasan]”
Warga NU: “Perkataan Anda tidak berdasar, dan berarti Anda tidak mengerti hadits Ibnu Umar tersebut. Anda kurang teliti dan kurang banyak menelaah dan mempelajari kitab-kitab hadits serta memahaminya sesuai dengan pemahaman para ulama ahli hadits. Syubhat yang Anda sampaikan untuk menolak bid’ah hasanah, dengan hadits di atas, sangat lemah karena beberapa hal:
Pertama, pernyataan Ibnu ‘Umar: “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. . Akan tetapi Beliau mengajari kami untuk mengatakan : “Alhamdulillah” ‘alaa kulli haal”. Pernyataan Ibnu Umar ini tidak bermaksud bahwa menambah bacaan dari bacaan yang diajarkan oleh Nabi SAW hukumnya bid’ah dan haram, akan tetapi Ibnu Umar ingin menjelaskan antara bacaan yang asli dari Nabi SAW dengan bacaan yang ada tambahan dari pembaca tersebut. Hal ini terbukti, bahwa Ibnu Umar sendiri melakukan tambahaan dalam bacaan talbiyah, ketika menunaikan ibadah haji. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya sebagai berikut:
عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ تَلْبِيَةَ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ ». قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – يَزِيدُ فِيهَا لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ.
Dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar RA, bahwa talbiyah Rasulullah SAW adalah: “Labbaikallaahumma labbaik labbaika laa syariika lak labbaik innal hamda wanni’mati laka walmulka laa syariika lak”. Nafi’ berkata; “Abdullah bin Umar selalu menambah bacaan talbiyah tersebut dengan berkata, “Labbaika wa sa’daika wal khoiru biyadaika labbaika warraghbaa’u ilaika wal’amalu.” HR. Muslim 2868.
Dalam riwayat Muslim di atas, jelas sekali bahwa Ibnu Umar melakukan tambahan terhadap talbiyah Rasulullah SAW. Seandainya maksud perkataan Ibnu Umar dalam riwayat al-Tirmidzi di atas, ketika menanggapi bacaan seseorang yang bersin, adalah larangan melakukan tambahan terhadap dzikir yang datang dari Nabi SAW, tentu Ibnu Umar, tidak akan melakukan tambahan dalam bacaan talbiyah-nya, atas bacaan talbiyah Rasulullah SAW. Perlu diingat, riwayat tambahan bacaan talbiyah, adalah riwayat Muslim, lebih kuat daripada riwayat kasus bersin di atas, riwayat al-Tirmidzi

Kedua, menambahkan bacaan ke dalam bacaan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW tidaklah dilarang, selama tidak bertentangan dengan bacaan yang diajarkan tersebut. Imam al-Bukhari meriwayatkan:
عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
"Dari Rifa’ah bin Rafi’ al-Zuraqi, berkata: “Suatu hari kami menunaikan shalat di belakang Nabi SAW. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata, “sami’allaahu liman hamidah”, lalu seorang laku-laki di belakang beliau berkata: “Robbanaa wa lakal hamdu handan katsiiran thayyiban mubaarokan fiih.” Ketika selesai shalat, Nabi SAW bersabda: “Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?” Laki-laki tersebut menjawab: “Saya.” Nabi SAW bersabda: “Aku telah melihat tiga puluh lebih para Malaikat yang terburu-buru mencatat pahala bacaan tersebut, siapa di antara mereka yang mencatat terlebih dahulu.” HR al-Bukhari 799.
Mengomentari hadits tersebut, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari:
واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير ماثور إذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر ما لم يشوش على من معه
“Hadits tersebut menjadi dalil bolehnya membuat dzikir baru dalam shalat yang tidak diajarkan oleh Nabi SAW, apabila tidak menyalahi dzikir yang diajarkan, dan bolehnya mengeraskan suara dengan dzikir dalam shalat, selama tidak mengganggu orang yang bersamanya.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari).
Keterangan di atas sangat jelas, bolehnya membaca dzikir baru dalam shalat. Sebelumnya, juga jelas, bahwa Ibnu Umar, menambahkan dzikir baru dalam talbiyah-nya ketika ibadah haji. Apabila dalam shalat dan haji, boleh menambah dzikir baru, padahal dalam keduanya penuh dengan syarat dan rukun ibadah, apalagi dalam bersin. Bukankah begitu ya ikhwan???
Ketiga, membaca sholawat ketika bersin, sebagai tambahan dari bacaan Alhamdulillah, kalau hal itu dianggapnya yang sunnah dari Nabi SAW, maka hal itu yang kurang baik. Nah mungkin itu yang dimaksud dari ucapan oleh Ibnu Umar. Tetapi kalau hal itu, dianggap sebagai tambahan pribadi, dengan arti kalau tidak membaca sholawat dan salam kepada Nabi SAW, hatinya kurang merasa sreg, maka hal tersebut tidaklah dilarang. Kasus yang sama mengenai masalah ini adalah kasus seorang sahabat, yang selalu menambahkan membaca surat al-Ikhlash di dalam shalat, setiap selesai membaca surat, dan ketika dilaporkan kepada Nabi SAW, ternyata Nabi SAW tidak melarangnya, bahkan menjanjikannya, hal tersebut akan mengantarnya masuk surga. Kasus ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, dan dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

Keempat, tidak sedikit ulama ahli hadits yang menganjurkan membaca shalawat ketika bersin, mereka antara lain al-Imam al-Baihaqi, al-Hafizh Abu Musa al-Madini, Ibnu Qayyimil Jauziyyah dalam Jala’ul Afham hal. 235, al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi’ hal. 324, dan lain-lain. Hal tersebut didasarkan pada hadits:
وأما الصلاة عليه عند العطاس فعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال من عطس فقال الحمد لله على كل حال ما كان من حال وصلى الله على محمد وعلى أهل بيته أخرج الله من منخره الأيسر طائراً يقول اللهم اغفر لقائلها أخرجه الديلمي في مسند الفردوس له بسند ضعيف
“Adapun membaca shalawat ketika bersin, maka telah diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri RA, dari Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang bersin, lalu berkata segala puji bagi Allah karena semua keadaan dan keadaan yang telah berlalu, dan semoga Allah bershalawat kepada Muhammad dan keluarganya, maka Allah akan mengeluarkan dari lubang hidungnya yang kiri, seekor burung yang berkata: “Ya Allah, ampunilah orang yang membacanya.” HR al-Dailami, dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah.”
وعند ابن بشكوال من حديث ابن عباس مرفوعاً مثله إلى قوله الأيسر وقال بعده طيراً أكبر من الذباب وأصغر من الجراد يرفرف تحت العرش يقول اللهم اغفر لقائلها ، وسنده كما قال المجد اللغوي لا بأس به سوى أن فيه يزيد بن أبي زياد وقد ضعفه كثيرون لكن أخرج له مسلم متابعة والله أعلم.
“Ibnu Basykuwal meriwayatkan hadits tersebut dari jalur Ibnu Abbas secara marfu’, dengan redaksi yang sama sampai ke “lubang hidung yang kiri”. Dan sesudahnya berkata: “seekor burung yang lebih besar dari lalat, lebih kecil dari belalang yang mengepakkan sayapnya di bawah Arasy, sambil berkata: “Ya Allah, ampunilah orang yang mengucapkannya.” Sanad hadits ini, sebagaimana dikatakan al-Majd al-Lughawi, adalah tidak apa-apa (hasan), hanya saja di dalamnya terdapat Yazid bin Abi Ziyah. Ia telah didha’ifkan oleh banyak ulama, akan tetapi Muslim meriwayatkan haditsnya sebagai penguat.” (Al-Hafizh al-Sakhawi, al-Qaul al-Badi’, hal. 324)
Penanya: “Shahabat Nabi, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang telah dijamin masuk Surga berkata:“Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik” [Diriwayatkan oleh Lalikai dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 126), Ibnu Baththah dalam Ibanah (no. 205), Al-Baihaqi dalam Madkhal Ila Sunan (no. 191), dan Ibnu Nashr dalam As-Sunnah (no. 70). Riwayat ini shahih, lihat penjelasannya dalam Ahkam Janaiz (hlm. 258).”
Warga NU: “Perkataan Ibnu Umar, "Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik,” yang dimaksud manusia di sini adalah orang awam, bukan orang alim. Kalau orang alim, biasanya punya dalil. Jadi, perlu juga Anda pahami maksud perkataan Ibnu Umar tadi dengan baik, agar tidak kontradiksi dengan perbuatan Ibnu Umar sendiri, yang menambah bacaan talbiyah-nya dalam riwayat Muslim. Anda harus ingat, riwayat Muslim lebih kuat dari pada riwayat al-Lalaka’i, Ibnu Baththah, dan Ibnu Nashr.”

Penanya: “Bahkan ulama besar sang pembela sunnah yakni Al Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang beristihsan (menganggap baik suatu perbuatan tanpa dalil yang sharih lagi shahih) maka ia telah membuat syari’at (agama / aturan / tatacara ibadah) baru.” (al-Mankhul, hal. 374)”.
Warga NU: “Maaf, Anda tidak mengerti maksud perkataan Imam Syafi’i tersebut. Perkataan beliau maksudnya bukan menafikan bid’ah hasanah, sebagaimana dalam asumsi Anda. Itu maksudnya terori Istihsan, yang dijadikan dasar pengambilan hukum oleh madzhab Hanafi. Kalau Anda memang jujur, mengapa Anda tidak menerima bid’ah hasanah berdasarkan pernyataan Ibnu Mas’ud:
ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن
“Apa saja yang dianggap baik oleh umat Islam, maka hal tersebut baik juga menurut Allah.”
Mengapa Anda tidak mengutip perkataan Ibnu Mas’ud? Bukankah beliau sahabat Nabi SAW?”
Al-Imam Ahmad bin Hanbal Mengakui Bid’ah Hasanah
Al-Imam Ahmad bin Hanbal termasuk ulama mujtahid yang mengakui bid’ah hasanah. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan fatwa beliau kepada muridnya. Al-Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi
Diriwayatkan dalam kitab al-Mughni (1/838):
قَالَ الْفَضْلُ بْنُ زِيَادٍ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ فَقُلْتُ: أَخْتِمُ الْقُرْآنَ؛ أَجْعَلُهُ فِي الْوِتْرِ أَوْ فِي التَّرَاوِيْحِ؟ قَالَ: اجْعَلْهُ فِي التَّرَاوِيْحِ حَتَّى يَكُوْنَ لَنَا دُعَاءٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ. قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ؟ قَالَ: إِذَا فَرَغْتَ مِنْ آخِرِ الْقُرْآنِ فَارْفَعْ يَدَيْكَ قَبْلَ أَنْ تَرْكَعَ وَادْعُ بِنَا وَنَحْنُ فِي الصَّلاةِ وَأَطِلِ الْقِيَامَ. قُلْتُ: بِمَ أَدْعُوْ؟ قَالَ: بِمَا شِئْتَ. قَالَ: فَفَعَلْتُ بِمَا أَمَرَنِيْ وَهُوَ خَلْفِيْ يَدْعُوْ قَائِمًا وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ. قَالَ حَنْبَلٌ: سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُوْلُ فِي خَتْمِ الْقُرْآنِ: إِذَا فَرَغْتَ مِنْ قِرَاءَةِ: قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ فَارْفَعْ يَدَيْكَ فِي الدُّعَاءِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. قُلْتُ: إِلَى أَيِّ شَيْءٍ تَذْهَبُ فِيْ هَذَا؟ قَالَ: رَأَيْتُ أَهْلَ مَكَّةَ يَفْعَلُوْنَهُ، وَكَانَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ يَفْعَلُهُ مَعَهُمْ بِمَكَّةَ. انتهى. (الإمام ابن قدامة المقدسي، المغني، 1/838).
“Al-Fadhl bin Ziyad berkata: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal: “Aku akan mengkhatamkan al-Qur’an, aku baca dalam shalat witir atau tarawih?” Ahmad menjawab: “Baca dalam tarawih sehingga kita dapat berdoa antara dua rakaat.” Aku bertanya: “Bagaimana caranya?” Ia menjawab: “Bila kamu selesai dari akhir al-Qur’an, angkatlah kedua tanganmu sebelum ruku’, berdoalah bersama kami dalam shalat, dan perpanjang berdirinya.” Aku bertanya: “Doa apa yang akan aku baca?” Ia menjawab: “Semaumu.” Al-Fadhl berkata: “Lalu aku lakukan apa yang ia sarankan, sedangkan ia berdoa sambil berdiri di belakangku dan mengangkat kedua tangannya.” Hanbal berkata: “Aku mendengar Ahmad berkata mengenai khatmil Qur’an: “Bila kamu selesai membaca Qul a’udzu birabbinnas, maka angkatlah kedua tanganmu dalam doa sebelum ruku’.” Lalu aku bertanya: “Apa dasar Anda dalam hal ini?” Ia menjawab: “Aku melihat penduduk Mekah melakukannya, dan Sufyan bin ‘Uyainah melakukannya bersama mereka.” (Lihat pula, Ibn al-Qayyim, Jala’ al-Afham, hal. 226).
Kesimpulan:
Dalam riwayat di atas ada beberapa anjuran dari Imam Ahmad bin Hanbal:
1. Anjuran mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat taraweh
2. Setelah khatam, dianjurkan membaca doa
3. Dibaca sebelum ruku’ shalat taraweh
4. Kedua tangan diangkat dan doanya baca yang panjang
5. Doa yang dibaca bebas
6. Demikian ini dasarnya bukan al-Qur’an, bukan hadits dan bukan pula amaliah sahabat
7. Dasarnya justru penduduk Mekkah melakukan demikian
8. Imam Sufyan bin ‘Uyainah, juga melakukan demikian
9. Berarti apa yang beliau fatwakan termasuk bid’ah hasanah
10. Berarti bid’ah hasanah memang ada

Di antara bid’ah hasanah al-Imam Ahmad bin Hanbal adalah mendoakan gurunya dalam shalat sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Baihaqi berikut ini:
قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: إِنِّيْ لأَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِيِّ فِيْ صَلاَتِيْ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، أَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، 2/254).
“Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254).
Kesimpulan
1. Tidak ada riwayat dari hadits maupun dari sahabat, mendoakan orang tua dan guru dalam sujud di dalam shalat
2. Imam Ahmad melakukannya selama 40 tahun, dengan redaksi doa susunan beliau sendiri
3. Amaliah beliau termasuk bid’ah hasanah.
Penjelasan Imam Syafi'i
Al-Imam al-Syafi’i telah menjelaskan konsepnya tentang bid’ah hasanah dalam pernyataan beliau yang diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits, antara lain, al-Hafizh Abu Nu’aim, al-Hafizh al-Baihaqi, al-Hafizh al-Dzahabi dan lain-lain. Beliau berkata:
اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩).
“Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

itu dibaca, dipelajari, dipahami dengan benar. Jika mau dipakai silahkan, jika menolak, tidak usah menyalahkan yang lain. Perkara yang wajib ketika anda memegang paham bahwa ada bid'ah hasanah, ada dholalah, anda harus tahu alasannya. Jika anda menolak adanya bid'ah hasanah, anda juga harus kuat dalam argumentasinya, jangan pake dalil trio kwek kwek, katanya-katanya.... apalagi hanya satu dalil "KULLU BID'ATIN DHOLALAH, NABI GA PERNAH LAKUKAN", emang kamu hidup jaman nabi sehingga kamu menyaksikan sendiri perbuatan nabi? itu para ulama saja yang ahli hadis, juga sahabat ibnu Umar mengakui adanya bid'ah... belajar lagi supaya ilmumu luas, jangan kayak katak dalam tempurung. Lebih bijak kamu menjawab: ini adalah masalah khilafiyah dan khilafiyah adalah urusan para ulama, fuqoha. saya bukan level mereka dalam hal ini dan saya mengikuti salah satu dari mereka yang saya yakini keilmuannya tanpa menyalahkan yang lain, begitu.

ijin copy kang...Mari kita tingkatkan dan kuat kan Iman kita semua,mari perbanyak Sholawat.....dan selalulah derdzikir pada allah di setiap nafasmu...karena perlu di ketahui nafas yang di keluarkan dalam setiap hembusan haruslah di syukuri dan wajib bernilai ibadah....jangan suka mengatakan bid'ah atau suka mengkafirkan sesama ..kalo kita sendiri belum bisa beribadah.....Ingat !!! tujuan manusia dan jin di cipta ..pelajari pahami dan renungi itu saja dulu...kalo sudah menjalankan seperti ibadahnya Nabi Muhammad Persis sesuai Nabi pada jaman dulu,baru silahkan membid'ahkan dan mengkafirkan orang,,,kita sholat saja masih mikirin nafsu masih mikirin dunia ,,,belajarlah sholat dulu yang benar setelah itu aplikasikan dalam kehidupan sehari hari ,saranku mari kita semua benahi sholat kita dulu....sudah benar apa belum khusu' apa belum tuma'ninah belum ....jadi jangan suka membid'ahkan atau mengkafirkan sesama...ingat termasuk dosa terbesar adalah kesombongan yang merasa paling benar paling suci ...

nafsi nafsi ajalah urus urusan masing masing karna blum tentu islam kita udah beber ga perlu lah kita koment orang sebelun kita lihat diri sendiri jgn merasa paling benar karna smua kebenaran itu hanya allah yang punya dan tau

Kakak mau tanya.., kenapa diba' juga disebut berzanji?

intinya yang bukan islam ahli sunnah waljamaah itu akan celaka, sama seperti nasib orang kafir,yang menentang rasulullah saw.

tobatlah wahay wahabi....kamu adalah kafir yang nyata. musuh yang nyata bagi kami islam ahli sunnah waljamaah.

kalo ga salah nabi ga pernah menyebarkan islam dengan 1.WAYANG 2.MUSIK 3.TRADISI.
jadi anda menghina wali 9 yg menyebarkan islam di tanah jawa sebagai HARAM

jika anda orang jawa, pasti anda tidak akan asing oleh wali 9. jadi dengan otak anda sendiri anda meng'HARAMKAN SUNAN KALI JAGA yg telah menyebarkan ISLAM di tanah jawa dengan alat bantu WAYANG

jika anda orang jawa, pasti anda tidak akan asing oleh wali 9. jadi dengan otak anda sendiri anda meng'HARAMKAN SUNAN KALI JAGA yg telah menyebarkan ISLAM di tanah jawa dengan alat bantu WAYANG

banyak yg bilang diba'an itu haram.
1.apakah diba'an menyembah syetan.
2.salah'kah kita mengirim sholawat kepada nabi.
3.kalo ad orang yg bilang "di al-qur'an tidak di jelaskan tentang diba'an, tapi di al-qur'an tidak di jelaskan juga untuk melarang sholawat kepada nabi"
RASULULLAH bersabda "Sholawatlah kepadaku, karna sholawatmu kepadaku adalah pelebur dosa'mu"
.
allahuma sholli wa sallim asrafash-sholati wa taslim
allasyayidina wa nabiyyina muhammadinir-ra'ufir-rahim.
allahuma sholli wa salim wa barik alaik

banya nama yg berbeda namun itu sama.
contoh:
dalam ISLAM : ruquyah
dalam JAWA : ruwatan
(sebuah pengobatan yg di ambilkan dari ayat" al-qur'an. kalo kurang paham bisa inbox :Andy Fa Rah)
pelajaran sendiri deh yg ini

banya nama yg berbeda namun itu sama.
contoh:
dalam ISLAM : ruquyah
dalam JAWA : ruwatan
(sebuah pengobatan yg di ambilkan dari ayat" al-qur'an. kalo kurang paham bisa inbox :Andy Fa Rah)
pelajaran sendiri deh yg ini

Hayuu yang mau Maulidan silahkan, yg ga mau juga silahkan tidak usah saling berdebat, biar pahala Allah SWT yg menentukan.., gitu aja kok repot

Ya Nabi salamualaika, Ya Rasul sallam alaika, Yaa Habib salam alaika, Solawatullah alaika.

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD

Hayuu yang mau Maulidan silahkan, yg ga mau juga silahkan tidak usah saling berdebat, biar pahala Allah SWT yg menentukan.., gitu aja kok repot

Ya Nabi salamualaika, Ya Rasul sallam alaika, Yaa Habib salam alaika, Solawatullah alaika.

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD

Top markotop. Gitu aja, kok repot.
Ya Nabi salamualaika, Ya Rasul sallam alaika, Yaa Habib salam alaika, Solawatullah alaika.

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD

arab nya di harokati dong ,kalo gundul gimana bacanya...

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD

Saudari AINUL M....Anda tidak sepaham dengan kami...Kalau anda mengigat sejarah wali 9 ...galilah kembali ilmu anda...aq tau anda bukan orang NAHDLOTUL ULAMA....Mungkin anda sendiri bid'ah...nabi muhammad dulu kemana mana naik onta,apakah anda naik onta...

Ndak usah ngurusi Ainul dkknya, yang wahabi, biar kan ainul mulutnya nrocos nanti di akhirat akan dibungkam dia.

Segala sesuatu di dunia ini Allah yang ciptakan, baik wayang atau yang lainnya, Allah ciptakan sesuatu itu pasti manfaatnya, tinggal bagaimana manusuianya. Kelembutan dan rasa kasih sayang terhadap sesama dan menunjukan ahlak islam dan akidah islam itulah yang akan menarik orang ingin lebih mendalami islam, tidak dengan satu pandangan saja. Kalau yang di bid'ahkan cuma ibadah kenapa yang lain tidak di bid'ahkan. Kalau kita pikir maka kita semua lebih banyak melakukan bid'ah, tolonglah jangan saling membid'ahkan sebuah ibadah.

dikit2 bid'ah naik haji pakai pesawat bid'ah mbrangkang o...hati2 saja memang stiap org beda2 menafsirkan yg jelas kita di akhirot sendiri2 gak minta pertolongan dari org lain dan kita sama2 belom pernah kesana jadi jangan saling menyalahkan yakini keyakinan kita masing masing kita hnya niat saja alloh sudah tau...

Ngaji jangan setengah-setengah. Happy sholawat..

#Ainul ,keliatan sekali anda menafsiri dalil hanya dengan copas terjemahan aja,

#Ainul ,keliatan sekali anda menafsiri dalil hanya dengan copas terjemahan aja,

benahi dahulu pakaian kita dengan memperbanyak sholaat
dan intropeksi diri , meminta ampun kepada ALLAH SWT dan terus bersholawat kepada baginda NABI MUHAMMAD Sollahu alaihi wassalam.
kelak yang di di pertanyakan di kubur adalah diri kita sendiri, bukan tentang orang lain , jadi perbaikilah diri kita sebelum memperbaiki orang lain dan teruslah berbagi amalan baik dengan mengajak sodara sodara kita ke jalan yang ALLAH SWT ridhoi.
Allahuma solli ala sayyidina muhammad wa'ala ali sayyidina muhammad sollahu alaihi wassalam.

Saya ga tau dan ga mau ngjudge itu haram atau halal,boleh atau ga boleh..Tp emg bener hukum asal suatu ibadah adlh haram slama ga ada dalil yg menghalalkan nya..
Wahabi...Itu apa sih?
Beda pendapat bkn berarti Wahabi atau kafir dsb...(menurut saya)

Itulah bedanya orang dulu dengan sekarang. Dulu itu orang mengajak kalo sekarang orang memaksa. Dulu wali 9 menyebarkan agama islam dengan budaya. Karena pada saat itu budaya digunakan dalam kehidupan sehari hari. Coba bayangkan jika wali 9 menyebarkan agama dengan kekerasan. Apa yg terjadi. Orang2 budaya itu akan memusuhi islam. Islam tidak radikal. Coba lihat film 99 cahaya dilangit eropa. Sesudah itu cari sejarah kara mustofa pasha dan bagaimana cara menyebarkan agama islam. Pahami jangan ditonton aja. Tiap daerah beda cara penyebarannya teegantung daerah itu bukan dengan dalil. Ini mengislamkan orang2 bukan mengkafirkan orang islam. Pendapat saudara ainur salah kaprah . Mau aja dibohingi whb.

Maaf,,,, jika anda pernah mengkaji ilmu mantiq(idhoh mubham) anda tidak akan berkata seperti itu..... Ada banyak dalil dan kejadian" yg dapat membantah argumen mbak.... Anda sekolah itu bid'ah loh mbak, anda naik kendaraan modern juga bid'ah loh.... Anda juga dosa kan?

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More