KH Maioen Zubair

Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian..

AMALIYAH NU

Amalan-amalan orang-orang umum seperti pujian, walimatul hamli, ulang tahun semua ada keterangan dan dasarnya disini

SANTRI SARANG BLOGGER

BLOGGER SANTRI SARANG

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Aliran-aliran

Perpecahan pemeluk agama menimbulkan adanya....

Senin, 22 Agustus 2011

ADZAN JUM’AT DUA KALI, SHALAT SUNNAT QOBLIYAH JUM’AT & KHOTBAH DENGAN MEMEGANG TONGKAT

Komunitas muslim di Indonesia meyoritas adalah warga Nahdliyyain dan mereka itu pada umumnya awam tentang dalil-dalil bagi amaliyah yang selama ini mereka amalkan. Maka wajarlah mereka itu kita beri pencerahan tentang amaliyah-amaliyah NU secara utuh agar mereka tidak menjadi kurban cara pandang kelompok muslim yang suka membid’ahkan muslim lain yang bukan kelompoknya.
Memang ada kelompok muslim dengan nada provokatif yang melontarkan tuduhan negataif kepada warga kita, antara lain –kata mereka- Adzan Jum’at dua kali, shalat sunnat qobliyah Jum’at dan khotbah dengan memegang tongkat itu termasuk tindakan BID’AH.
Di bawah ini penjelasan tentang permasalah amaliyah-amaliyah tersebut :
Pelaksanaan Jum’at yang dilakukan oleh warga Nahdliyyin adalah dengan dua kali adzan dan satu iqamah. Urut-urutannya sebagai berikut :
-       Mu’addzin mengumandangkan adzan. Adzan pertama ini disebut dengan istilah adzan tsalits;
-       Kemudian para jama’ah melakukan shalat sunat qobliyah dua rakaat;
-       Setelah khatib naik mimbar dan menyampaikan salam kepada para jama’ah, maka mu’adzin mengumandangkan adzan lagi. Adzan yang kedua ini disebut adzan awal;
-       Selanjutnya sang khatib membacakan dua khotbah dalam posisi berdiri dan memegang sebuah tongkat;
-       Setelah selesai khotbah, maka muadzin mengumandangkan iqamah (kamat). Dan ini disebut dengan istilah adzan tsani.

Dasar Hukum Pelaksanaan Adzan Tsalits
Adzan tsalits (adzan pertama kali) ini dilakukan oleh umat Islam pada zaman sahabat
Utsman bin Affan ra. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
عن السائب بن زيد رضي الله عنه قال : كان النداء يوم الجمعة أوله إذا جلس الإمام على المنبر على عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما. فلما كان عثمان رضي الله عنه وكثر الناس زاد النداء الثالث على الزوراء. [رواه البخاري]
Artinya :
Dari Sa'ib bin Yazid dia berkata : pada mulanya adzan jum'at itu ketika khatib duduk di atas mimbar, demikian itu pada zaman Nabi, Abu Bakar dan Umar. Kemudian pada zaman Utsman, manusia bertambah banyak yang dataug ke masjid, maka ditambahlah adzan tsalits di atas menar”. (HR. Bukhori)
Riwayat hadits ini menyatakan bahwa sejak masa pemerintahan Utsman terjadi penambahan adzan tsalits tersebut. Apa yang dilakukan oleh Utsman ini ternyata diikuti oleh seluruh sahabat yang ada waktu itu dan tak ada satu pun dari mereka yang menentangnya.
Dengan demikian mengenai adzan tsalits tersebut berarti telah terjadi kesepakatan pendapat di antara para sahabat (ijma’ shahabi). Dan ijma’ shahabi ini bisa dipakai dasar hukum.
Selain itu, mengikuti jejak sahabat Utsman Berarti juga mengikuti jejak Nabi, sebab Nabi memerintahkan kepada kita agar mengikuti Khulafa’ur Rasyidin, dan Utsman termasuk salah satu seorang dari rnereka, sesuai dengan sabda beliau :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي [رواه أبو داود]
Artinya:
“Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin sesudah aku”. (HR. Abu Dawud)

Dasar Hukum Pelaksanaan Shalat Sunnat Qobliyah Jum’at dan Khotbah dengan Memegang Tongkat
Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah mengamalkan shalat sunat qobliyah Jum’at ini berdasarkan sunnah qouliyyah dan sunnah fi’liyyah (sabda dan perilaku Nabi SAW), sebagaimana yang tersebut dalam kitab Ahkamul Fuqoha’ masalah no. 4 dengan mengutip keterangan dari kitab karangan Syaikh Kurdi ala Bafadlol, sebagai berikut :
قال الكردي على بافضل في باب صلاة الجمعة : وأقوى ما يتمسك به مشروعية الركعتين قبل الجمعة ما صححه ابن حبان من حديث عبد الله بن الزبير مرفوعا : ما من صلاة إلا وبين يديها ركعتان. قاله في فتح الباري. وقال الكردي أيضا : ورأيت نقلا عن شرح المشكاة لملا على القاري ما نصه : وقد جاء بسند جيد كما قاله العراقي إنه صلى الله عليه وسلم كان يصلي قبلها أربعا. اهـ
Artinya :
“Dalil yang paling kuat sebagai pedoman bagi dianjurkannya shalat qobliyah Jum’at dua rakaat ialah hadits shahih riwayat Ibnu Hibban dari Abdillah bin Zubair Marfu’ sampai Rasulullah SAW. : “Tidak ada satu pun shalat fardlu kecuali sebelumnya dilakukan shalat sunat dua rakaat”. Demikian keterangan kitab Fathul Bari. Syaikh Kurdi juga mengatakan : “saya melihat ada sebuah riwayat syarah Misykah karangan Syaikh Mula Ali Qori, demikian teksnya : “telah datang sebuah riwayat dengan sadad yang bagus sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-‘Iroqi bahwa Rasulullah Saw. melakukan shalat sebelum Jum’atan empat rakaat”.
Adapun khotbah dengan memegang tongkat ini dasar hukumnya adalah Fi’lun Nabi SAW. sebagaimana yang ditulis oleh imam Suyuthi dalam kitab Al-Jami’us Shoghir hal 245:
كان إذا خطب في الحرب خطب على قوس وإذا خطب في الجمعة خطب على عصا. [رواه ابن ماجه والحاكم والبيهقي]
Artinya :
“Adalah Rasulullah SAW. ketika berkhutbah dalam rangka perang beliau berkhutbah dengan memegang pedang, dan jika berkhutbah untuk shalat Jum’at beliau berliau berkhutbah dengan memegang tongkat” (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)
Dengan demikian warga kita mengerti bahwa tuduhan BID’AH yang dialamatkan kepada kita itu menjadi batal dalam hukum, karena kuatnya dalil-dalil syar’i yang mendukung kebenaran-kebenaran amaliyah kita tersebut.

MEMBACA USHOLLI SEBELUM TAKBIRATUL IHRAM

Setiap menunaikan shalat, warga Nahdliyyin selalu membaca usholli sesaat sebelum Takbiratul Ihram, dan sudah barang tentu dengan menyebutkan rakaat, shalat ada’, menghadap qiblat dan ditunaikan hanya karena Allah. Kepada golongan yang suka membid’ahkan kita sehubungan dengan bacaan usholIi tersebut, perlu kita beri penjelasan :
1.    Yang dinamakan shalat adalah : ucapan dan
perbuatan kita sejak takbir sampai salam.
Sabda Nabi SAW. :
مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم. [رواه أحمد]
Artinya :
“Kuncinya shalat adalah bersuci, ihramnya adalah takbir dan tahallulnya adalah salam” (HR. Ahmad)

2.    Bacaan usholli sebelum Iakbir tidak termasuk
substansi shalat. Ini berarti kita kita tidak menambah amalan shalat. Jadi hal tersebut
tidak bid’ah sebagaimana yang mereka tuduhkan.
3.    Membaca usholli dan seterusnya sebelum takbir hukumnya sunat, karena di dalamnya ada beberapa fa’idah, antara lain:
a.    Menuntun hati kita agar berkonsentrasi dalam beribadah secara maksirnal.
b.    Mengingatkan jiwa dan pikiran kita kepada tujuan shalat, yakni hanya mencari keridlaan Allah SWT. semata. Jangan sampai lisan kita sudah mernbaca takbir, tetapi jiwa dan pikiran kita belum siap dan masih teringat urusan selain shalat.
Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub menerangkan:
ويسن النطق بالمنوي ونية الأداء أو القضاء والإضافة إلى الله تعالى والاستقبال وعدد الركعات. اهـ
Artinya:
"Disunatkan mengucapkan shalat apa yang diniatkan, shalat ada’ atau qodlo’, menyandarkan shalatnya kepada Allah, menghadap qiblat dan bilangan rakaat”.
Sayyid Bakri dalam kitabnya I’anatut Thalibin juga menerangkan :
ويسن في النية إضافة إلى الله تعالى خروجا من خلاف من أوجبها وليتحقق معنى الإخلاص ..... إلى أن قال : وسن نطق بمنوي قبل التكبير ليساعد اللسان القلب. [إعانة الطالبين 1/129-130
Artinya :
“Disunatkan menyandarkan niat kepada Allah SWT. karena ada sebagian ulama yang mewajibkannya dan lagi untuk memantapkan makna ikhlas ..... sampai kata-katanya : dan disunatkan pula mengucapkan shalata apa diniaikan sebelum takbir, agar lisan ini bisa membantu mengkonsentrasikan maksud dalam hati”
Berdasarkan beberapa keterangan tersebut di atas, mulai devinisi shalat menurut syara’, tata cara berniat sampai pendapat sebagian ulama yang mewajibkan mengucapkan lafadzya niat dengan lisan lengkap dengan berbagai argumentasi dan penjelasan tentang hikmahnya, maka jelaslah bagi warga kita bahwa bacaan usholli sebelum niat itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara syar’i.
Meskipun demikian, kita harus bersikap toleransi (tasamuh) serta menghargai keyakinan amaliyah orang lain yang tidak baca usholli.

TARAWIH 20 RAKAAT

Shalat Tarawih merupakan salah satu dari sekian banyak syi’ar Islam di bulan suci yang penuh barakah yang diagungkan oleh kaum muslimin dan memiliki nilai tambah berupa pahala dari Allah SWT. Nabi kita Muhammad SAW., para sahabat dan para tabi’in selalu mengamalkan secara muwadzabah (terus menerus) setiap malam di bulan ang suci ini. Demikian pula kaum muslimin di seluruh belahan dunia sampai zaman kita sekarang.
Pengertian Shalat Tarawih
Shalat Tarawih adalah shalat malam yang dikerjakan pada bulan suci Ramadlan sesudah mengerjakan shalat Isya’ dan sebelum witir.
Hukum Shalat Tarawih
Hukum shalat Tarawih adalah sunnah Muakkadah, Berdasarkan hadits Nabi :
من قام رمضا إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه. [رواه البخاري]
Artinya :
“Barang siapa yang melakukan ibadah di bulan Ramadlan (shalat tarawih) hanya karena iman kepada Allah dan mencari keridlaanNya, maka diampuni dosa-dosa yang lewat”. (HR. Bukhari)

Bilangan Rakaat Shalat Tarawih
Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan tentang bilangan rakaat shalat Tarawih, antara lain :
a.    Hadits riwayat Ibnu Abbas :
عن ابن عباس رضي الله عنهما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان في غير جماعة بعشرين ركعة والوتر
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas ra. dia berkata : Rasulullah SAW. shalat pada bulan Ramadlan tanpa berjama’ah 20 rakaat dan witir”. (HR. Ibnu Abi Syaiban dan Baihaqi)

b.    Hadits riwayat Yazid bin Ruman
عن يزيد بن رومان قال : كان الناس يقومون في زمن عمر رضي الله عنه بثلاث وعشرين ركعة. [رواه مالك في الموطأ]
Artinya :
“Orang-orang di zaman Umar ra. melakukan shalat malam 23 rakaat (20 Tarawih, 3 Witir)”. (HR. Malik dalam kitab Muwattho’)

c.    Hadits riwayat Siti A’isyah ra. :
روي عن عائشة رضي الله عنها قالت : ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان وغيره على إحدى عشرة ركعة. [رواه البخاري]
d.   Hadits riwayat Jabir
صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان ثمان ركعات ثم أوتر. [رواه ابن حبان]
Artinya :
“Rasulullah SAW. melakukan shalat bersama kita (para sahabat) pada bulan Ramadlan delapan rakaat. Kemudian melakukan witir”. (HR. Ibnu Hibban)
Karena beberapa hadits tersebut satu sama lain saling bertentangan, maka kita kembali pada Ushul Fiqih :
إذا تعارضت الأدلة تساقطت ووجبت العدول إلى غيرها.

Artinya :
“Apabila beberapa dalil itu bertentangan, maka semua saling menggugurkan dan wajib pindah pada dalil lainnya”.
Oleh karena itu, mengenai bilangan rakaat shalat tarawih ini para ulama madzhab pindah pada pedoman/dalil yang kongkrit yaitu ijma’ pada sahabat pada zaman Sayyidina Umar ra. yakni melaksanakan Tarawih 20 rakaat. Sebagaimana tersebut dalam kitab Muwattho’.

Cara Melakukan Shalat Tarawih
a.    Setiap dua rakaat salam (20 rakaat 10 kali salaman).
b.    Lebih afdlol dilakukan dengan berjamaah. Imam Bukhari meriwayatkan :
عن عبد الرحمن بن عبد القاري قال : خرجت مع عمر بن الخطاب ليلة في رمضان فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط. فقال عمر : إني أري لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أبي بن كعب. [رواه البخاري]
Artinya:
“Abdur Rahman bin Abdul Qori berkata : pada suatu malam di bulan Ramadlan saya keluar bersama Umar bin Khatthab dan orang-orang terbagi berkelompok-kelompok, ada yang shalat sendiri dan ada yang diikuti sekelompok orang. Lalu sahabat Umar berkata : “Sesungguhnya saya berpendapat, jika mereka dikumpulkan menjadi satu (untuk berjamaah shalat Tarawih) dengan diimami oleh seseorang yang bagus bacaan Al-Qur’annya, tentu hal itu lebih utama”. Kemudian beliau dengan tekad yang man tap mengumpulkan mereka dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab”. (HR. Bukhari)
c.    Diakhiri dengan shalat Witir 3 rakaat dengan terpisah, yakni 2 kali salam. Dalam kitab Majmu’ juz IV halaman 18 diterangkan:
الصحيح أن الأفضل أن يصليها مفصولة بتسليمتين لكثرة الاحاديث ولكثرة العبادات. إهـ [المجموع 4/18]
Artinya :
“Menurut pendapat yang shahih bahwa yang paling utama yaitu seseorang melakukan shalat witir dengan dipisah dua kali salam, karena banyak hadits yang meriwayatkan hal itu, dan lagi karena bertambah banyaknyaamalan dalam beribadah”.
Pada akhir pembahasan ini, penulis ingin menyampaikan dua catatan penting untuk para warga Nahdliyyin :
1.    Kutipan fatwa Syaikh Muhammad Ali as-Shobuni maha guru fakultas Syari’ah di Makkah al-Mukarramah yang ditulis dalam risalahnya yang berjudul الهدي النبوي الصحيح في صلاة التراويح pada awal Sya’ban 1403 H. :
وبعد، فإن ما يفعله المسلمون اليوم في مشارق الأرض ومغاربها من صلاة التراويح عشرين ركعة هو الحق الذي دلت عليه النصوص الكريمة، وهو الذي درج عليه السلف الصالح وأجمع عليه الأئمة الأعلام، والذي اتفقت عليه الأمة الإسلامية من خلافة عمر الفاروق رضي الله عنه إلى زماننا هذا. وصلاة التراويح عشرين ركعةهو ما يتفق مع هدي النبوة ولا يخالف السنة النبوية الشريفة لأنه اتباع لأمر الرسول صلى الله عليه وسلم، فعليكم بسنة وسنة الخلفاء الراشدين المهدين.
Artinya :
“Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh kaum muslimin pada saat ini baik di belahan bumi bagian timur atau barat, yang berupa shalat tarawih dua puluh rakaat adalah yang benar sesuai dengan yang ditunjukkan oleh teks-teks dalil yang mulia dan dilakukan oleh ulama salaf yang shalih serta disepakati oleh para Imam yang tinggi ilmunya dan diseutujui oleh seluruh ummat Islam sejak zaman Khalifah Umar al-Faruq sampai dengan zaman kita sekarang ini. Shalat Tarawih 20 rakaat merupakan suatu hal yang sesuai dengan petunjuk Nabi dan tidak bertentangan dengan sunnah Nabi yang mulia, karena telah ittiba’/mengikuti perintah Rasulullah SAW. berpegangteguhlah kamu dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk”.
2.    Sangat disayangkan amaliyah kebanyakan imam shalat tarawih dari kalangan warga Nahdliyyin yaitu di satu sisi mereka berupaya mengamalkan shalat tarawih yang sesuai dengan sunnah (20 rakaat), akan tetapi di sisi lain mereka tidak merasa terjebak dalam tindakan BID’AH selama sebulan penuh, yaitu melakukan shalat tarawih dengan gaya super cepat, sehingga diindikasikan tidak ada sikap khusyu’ atau thuma’ninah dalam shalatnya. Maka dari itu penulis yang dla’if dan awam ini kalau boleh ngaturi pengemut kepada sesama warga dengan menyontek (jawa: ngrepek) dari fatwa dua orang ulama yang alim di bidang ilmu fiqih :
a.    Syaikh Nawawi Banten dalam kitabnya Kasyifatus Saja hal 74 menulis :
والمكروهات في الصلاة اثنان وعشرون، أحدها جعل يديه في كمية ..... إلى أن قال : وسادسها إسراع في الصلاة أي عدم التأني في أفعالها وأقوالها. إهـ
“Hal-hal yang hukumny makruh di dalam shalat itu ada 22, yang pertama, memasukkan kedua belah tangannya ke dalam lengan baju ..... sampi kata-kata kyai mushannif : yang keenam, melakukan shalat dengan cepat yakni tidak adanya sikap perlahan-lahan dalam perbuatan dan ucapan sewaktu shalat”.
b.    Syaikh Abdur Rahma Ba Alawi dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin hal 61 memberi penjelasan :
وأما التخفيق المفرط في صلاة التراويح فمن البدع الفاشية لجهل الأئمة وتكاسلهم. ومقتضى عبارة التحفة أن الانفراد في هذه الحالة أفضل من الجماعة. إن علم المأموم أو ظن أن الإمام لايتم بعض الأركان لم يصح الاقتداء به أصلا. اهـ
Artinya :
“Mempercepat shalat Tarawih sampai keterlaluan itu termasuk salah atu tindakan bid’ah yang sudah tersebar di mana-mana. Hal itu terjadi karena faktor bodohnya para imam shalat dan wujud kemalsan mereka dalam beribadah. Isi ta’bir kitab Tuhfah : bahwa melaksanakan shalat tarawih sendirian dengan sikap khusyu’ dan tuma’ninah itu lebih afdlol dari pada berjamaah/mengikuti seorang imam yang shalatnya serba cepat. Apabila makmum yakin atau menduga bahwa sang imam tidak menyempurnakan sebagian rukun shalat, maka jamaahnya sama sekali tidak sah”.
Dari ta’bir yang ada dalam kitab tersebut, warga kita tentunya bisa memahami
1.    Shalat model gaya cepat itu hukumnya MAKRUH apabila sang imam dan para jamaah melaksanakan semua rukun shalat dengan sempurna;
2.    Apabila diyakini/diduga bahwa sang imam dan para jamaahnya tidak menyempurnakan salah satu rukun shalat, maka shalatnya tidak sah;
3.    Lebih baik shalat TARAWIH sendirian dengan sikap khusyu’ dan tuma’ninah dari pada berjamaah/mengikuti imam yang shalatnya SUPER CEPAT.

MEMBACA DIBAI'YYAH / DIBA' AN DAN SHALAWATAN

Pengertian Diba’an
Sebagaimana kita ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau tulisan singkat yang berisi bacaan shalawat. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Nabi yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berbentuk buku atau kitab antara lain : shalawat Dala'il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba'iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berbentuk tulisan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah. shalawat Badriyah dan lain- lain.
Dari sekian banyak kitab yang berisi bacaan shalawat tersebut ada yang paling terkenal dan sering dibaca yang diadakan oleh warga Nahdliyyin, antara lain adalah shalawat Diba’iyyah.
Jadi pengertian Dibaan adalah : membaca kitab yang berisi bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Dibai.

Hukum Membaca Diba'iyyah dan Shalawatan
Membaca shalawat Diba’iyyah atau shalawat yang lain menurut pendapat yang tersohor di kalangan Jumhurul Ulama adalah sunnah Muakkadah. Kesunatan membaca shalawat ini didasarkan pada beberapa dalil, antara lain:
a.    Firman Allah SWT.
Artinya :
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan sampaikanlan salatu penghormatan kepadanya. (QS. AI-Ahzab : 56)
b.    Sabda Nabi SAW.:
صلوا علي، فإن الصلاة علي كفارة لكم وزكاة. [رواه ابن ماجه]
Artinya :
“Bershalawatlah kamu untukku, karena membaca shalawat untukku bisa mengahapus dosamu dan bisa membersihkan pribadimu”. (HR. lbnu Majah)
c.    Sabda Nabi SAW. :
زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة. [رواه الديلمي]
Artinya:
“Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”. (HR. Ad-Dailami).

Fadlilah Membaca Shalawat
Seseorang yang ahli membaca shalawat akan diberi anugerah oleh Allah, antara lain :
a.    Dikabulkan do’anya
الدعاء كله محجوب حتى يكون أوله ثناء على الله عز وجل وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو فيستجاب له لدعاءه. [رواه النسائي]
Artinya:
“Setiap do’a adalah terhalanh, sehingga dimulai dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi, kemudian baru berdo'a dan akan dikabulkan do’a itu”. (HR. Nasa’i).
b.    Peluang untuk mendapat syafa'at Nabi pada hari kiamat.
b.    Dihilangkan kesusahan dan kesulitannya.
c.    Dan lain-lain.

Cara Membaca Diba’iyyah dan Shalawat Nabi
Dibaca dengan kesungguhan dan keikhlasan hati serta diiringi rasa hormat dan mahabbah/cinta kepada Rasulullah SAW.
Jelas sekali dalalah ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut bahwa kita sebagai ummat Muhammad diperintahkan untuk membacakan shalawat kepada Nabi SAW. dengan tujuan untuk mengagungkannya sekaligus mengharapkan barokahnya sewaktu kita masih hidup di dunia dan agar mendapat syafa’atul udzma ketika kita berada di alam mahsyar kelak.

Selasa, 16 Agustus 2011

MEMBACA DO' A QUNUT

Sejak awal berdirinya Nahdlatul Ulama mengambil sikap bijaksana dengan menetapkan salah satu madzhab embat sebagai rujukan pengamalan-pengamalan dan penetapan hukum, akan tetapi secara ubudiyah, warga NU banyak yang mengikuti madzhab Syafi’i. Misalnya pada saat shalat Shubuh pada raka’at kedua setelah I’tidal warga kita membaca Do’a qunut. 


Pengertian Qunut
Kata qunut berasal dari قَنَتَ يَقْنُتُ قُنُوْتًا yang artinya merendahkan diri kepada Allah. Sedangkan menurut istilah syara' Qunut adalah membaca do' a di dalam shalat setelah bacaan i'tidal pada rakaat akhir sambil mengadahkan kedua tangan.

Macam-Macam Qunut
A.    Qunut Shubuh
Yaitu do'a qunut yang dibaca setiap shalat Shubuh pada i’tidal rakaat akhir. Sebagaimana hadits Nabi di bawah ini:
عن أنس رضي الله عنه ما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في الصبح حتى فارق الدنيا [رواه الجماعة]
Artinya :
"Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SA W. senantiasa membaca do'a qunut pada shalat Shubuh sampai beliau meninggal dunia, (HR. Jama'ah).
عَنِ ابْنِ سِيْرِيْنَ قَالَ : قُلْتُ لأَنَسٍ : قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ ؟ قَالَ نَعَمْ، بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَسِيْرًا [رواه البخاري ومسلم]
Artinya:
Dari Ibnu Sirin dia berkata : saya bertanya kepada sahabat Anas, apakah Rasulullah SAW. itu membaca qunut? Anas menjawab : ya, sejenak sesudah ruku, (HR. Bukhori Muslim) .
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعلم هذا الدعاء يعني اللهم اهدني إلى آخره ليدعوا به في القنوت في صلاة الصبح [رواه البيهقي]
Artinya:
“Dari lbnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW. mengajarkan kepada para sahabat do'a Allahumma ihdini ... dst. agar dibaca dalam qunut shalat Shubuh”. (HR. Baihaqi)

B.     Qunut Witir
Yaitu doa qunut yang dibaca ketika shalat Witir di bulan Ramadlan pada separonya yang akhir. Sebagaimana hadits Nabi SAW.
عن الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنهما قال : علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في الوتر : اللهم اهدني فيمن هديت ..... [رواه أبو داود]
Artinya:
Dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. dia berkata : Aku diajari olelh Rasulullah SAW. beberapa kalimat yang aku baca pada shalat Witir, yaitu : Allahumma ihdini ..... dst. (HR. Abu Dawud)

C.     Qunut Nazilah
Yaitu qunutyang dibaca dalam setiap shalat pada i'tidalnya rakaat yang terakhir, sewaktu kaum muslimin tertimpa musibah.
Sebagaimana hadits Nabi SAW. :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ». مِنَ الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِى سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ.[رواه أبو داود]
Artinya:
“Dari lbnu Abbas ra. dia berkata : Rasulullah SAW. Membaca qunut selama sebulau berturut-turut pada shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dun Shubuh di bagian akhir tiap-tiap shalat yaitu ketika berkata samiallaahu liman hamidah pada rakaat akhir untuk mendoakan kepada suku Bani Sulaim, Rilin, Dzakwan, dan Ushayyah, dan orang-orang yang di belakang Rasulullah SAW. mengamininya (HR. Abu Dawud).

Hukum Membaca Do’a Qunut
Para fuqoha' Syafi'iyyah berpendapat bahwa, qunut shubuh dan qunut witir hukumnya sunnat Abadl, artinya jika orang yang shalat membacanya, maka dia akan mendapat pahala, dan jika dia lupa tidak membacanya, maka disunatkan sujud sahwi. Sedangkan qunut nazilah hukumnya sunat begitu saja, yakni bagi yang membacanya akan mendapat pahala, dan bagi yang tidak membacanya tidak usah sujud sahwi.
Dalam kitab Fiqih ala Madzahibil Arba’ah juz I hal 244 disebutkan :
الشافعية قالوا : سنن الصلاة الداخلة فيها تنقسم إلى قسمين قسم يسمونه بالهيئات وقسم يسمونه بالأبعاض فأما الهيئات فلم يحصروها في عدد خاص .......... وعدد الأبعاض عشرون  - 1 القنوت في اعتدال الركعة الأخيرة من الصبح ومن وتر النصف الثاني من رمضان أما القنوت عند النازلة في أي صلاة غير ما ذكر فلا يعد من الأبعاض وإن كان سنة.
Artinya :
“Ulama Syafi’iyyah berkata : Amalan sunnat di dalam shalat itu ada dua bagian yakni : sunnat hai’at dan sunnat Ab’adl. Bilangan sunnat Abl’adl ada dua puluh : (1) Membaca Do’a Qunut pada I’tidal rakaat akhir shalat shubuh dan ketika shalat witir pada separo yang akhirdi bulan Ramadlan. Adapun Qunut Nazilah pada setiap shalat selain shubuh dan witir Ramadlan tidak termasuk Sunnat Ab’adl walaupun status hukumnya tetap sunnat.
Kemudian pada hal : 248 disebutkan :


الحنابلة قالوا : سنن الصلاة ثمان وستون وهي قسمان قولية وفعلية، فالقولية اثنتا عشرة، وهي دعاء الاستفتاح والتعوذ قبل القراءة والبسملة ...... إلى أن قال : والقنوت في الوتر جميع السنة 

Artinya :
“Ulama Hanabilah mengatakan : amalan sunnat di dalam shalat itu ada enam puluh delapan, terbagi menjadi dua : Sunnah Qouliyah dan Sunnah Fi’liyah. Sunnah qouliyah ada dua belas : Do’a Iftitah, Ta’awwudz sebelum baca Fatihah, Basmalah, ..... sampai kata-kata Mushonnif : dan membaca qunut pada shalat witir sepanjang tahun”.
Jadi mengenai amaliyah berupa bacaan qunut Shubuh dan witir Ramadlan tetap kita amalkan terus, akan tetapi kita harus menghargai pendapat pihak lain yang tidak mengamalkannya, karena memang ada ulama madzhab selain Imam Syafi’i yang berpendapat bahwa membaca qunut hanya disunnatkan pada shalat witir saja.
Fadlilah/Keutamaan Membaca Do'a Qunut
Orang yang membaca doa qunut akan mendapat anugerah dari Allah, antara lain:
a.    Akan diberi petunjuk, kesehatan dan dicintai oleh Allah serta mendapat berkah dari-Nya.
b.    Terpelihara dari taqdir buruk.

Cara Membaca Do’a Qunut
      Mengangkat    kedua     tangan, kemudian mengajukan permohonan kepada Allah dan memuji-muji kepada-Nya dan diakhiri dengan do’a shalawat, Hadits Nabi SAW. :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رفع رأسه من الركوع في صلاة الصبح في الركعة الثانية رفع يديه فيدعو بهذا الدعاء : اللهم اهدني فيمن هديت ..... [رواه الحاكم]
Artinya :
“Apabila Rasulullah SAW. sudah mengangkat kepalanya dari ruku’ ketika shalat shubuh pada rakaat yang kedua, maka beliau mengadahkan kedua tangannya kemudian membaca do’a : Allahumma ihdini fi man hadait .... dan seterusnya”. (HR. Hakim)

Selasa, 05 Juli 2011

Madzhab Ahlissunnah Wal Jama'ah

Madzhab dalam bidang fiqh berlangsung sejak berkuasanya Mu'awiyah bin Abi Sufyan sampai sekitar awal abad ke-2 Hijriyah. Rujukan dalam menggali hukum suatu permasalahan masih tetap sama yaitu, Al Quran, Sunnah Nabi dan Ijtihad para ahli fiqh. Pada masa itu kedudukan ijtihad sebagai metode penggalian hukum semakin kokoh dan diterima oleh semua komponen masyarakat.


Jumhur al ulama sepakat mengatakan bahwa madzhab saat itu ada 13 madzhab ahlissunnah wal jama'ah yaitu :
1.         Madzhab Sufyan bin 'Uyainah (198 H.) di Makkah
2.         Madzhab Maliki (179 H.) di Madinah
3.         Madzhab Hasan Bashri (110) di Bashrah
4.         Madzhab Abu Hanifah (80-150 H.) di Kufah
5.         Madzhab Sufyan al Tsauriy (161 H.) di Kufah
6.         Madzhab Auza'iy (157 H.) di Syam
7.         Madzhab Syafi'i (150-204 H.) di Mesir
8.         Madzhab Laits bin Sa'ad (175 H.) di Mesir
9.         Madzhab Ishaq bin Rohawaih (238 H.) di Naisabur
10.     Madzhab Abu Tsaur (240 H.) di Baghdad
11.     Madzhab Ahmad bin Hambal (241 H.) di Baghdad
12.     Madzhab Daud al Dzahiriy (270 H.) di Baghdad
13.     Madzhab Muhammad Ibnu Jarir al Thobariy (310 H.) di Baghdad

Dari sekian madzhab yang ada hanya empat yang masih eksis sampai sekarang, yaitu : Madzhab Abu Hanifah, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi'i dan Madzhab Ahmad bin Hambal, adapun madzhab-madzhab yang lainnya masih dapat kita jumpai qoul-qoulnya dalam kitab-kitab seperti hilyah al ulama fi ma'rifah aqwal al fuqoha' karya Imam al Qoffal, bidayah al Mujtahid karya Ibnu Rusyd, al Muhalla karya Ibnu Hazm, Rohmah al Ummah karya Abu Abdilllah Shodr al Din al Dimasyqi, Nail al Author karya al Syaukani, bahkan dalam kitab-kitab tersebut seringkali kita jumpai qoul-qoul Shahabat dan ulama-ulama tabi'in.

Kelahiran beberapa madzhab tersebut menunjukkan perkembangan hukum Islam pada masa itu. Hal ini disebabkan munculnya beberapa problem di tengah-tengah masyarakat akibat meluasnya kekuasaan Islam sehingga menuntut untuk menugaskan para ulama ke wilayah-wilayah yang telah berhasil dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Dan masa ini dikenal dengan masa pembukuan ('ashru al tadwin) dalam berbagai disiplin ilmu[1].


[1] I'lam al Muwaqqi'in, Karya: Ibnu al Qoyyim Al Jauziyyah, Tarikh al Madzahib al Islamiyah, Karya: Syaikh  Muhammad Abu Zahro

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More